Kaleidoskop 2013

Komersialisasi Bandara Halim Perdanakusuma

Kamis, 26 Desember 2013 08:00 Reporter : Wisnoe Moerti
Komersialisasi Bandara Halim Perdanakusuma Bandara Halim Perdanakusuma. ©2013 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman

Merdeka.com - Beban yang harus ditanggung Bandara Soekarno Hatta sudah terlalu berat. Tergolong ke dalam sepuluh bandara tersibuk di dunia.

Pada 2009, bandara ini mencatat jumlah 212.000 penerbangan. Jumlah ini melonjak tajam menjadi 309.000 penerbangan sepanjang 2010 dan terus bertambah hingga 345.000 dan 381.000 di tahun 2011 dan 2012.

Jadi jangan heran jika pesawat yang hendak lepas landas (take off) harus antre dan menunggu giliran. Pun demikian untuk pesawat yang hendak mendarat (landing). Pesawat harus berputar-putar di angkasa sambil menunggu giliran mendarat.

"Ibarat bak berisi air, itu air sudah meluap," ujar pengamat penerbangan Alvin Lie kepada merdeka.com, beberapa waktu lalu.

Kondisi itu terjadi pada jam-jam sibuk, antara pukul 05.00-09.00 WIB dan 16.00-20.00 WIB. Otoritas bandara sudah kewalahan menghadapi persoalan kepadatan dan kesibukan Bandara Soekarno Hatta yang kini sudah berada di titik nadir.

Imbasnya tidak hanya dirasakan maskapai penerbangan, tapi lebih ke pelayanan terhadap konsumen. Jika pesawat kerap mengalami delay di Bandara Soekarno Hatta, ini salah satu penyebabnya.

Medio 2012, otoritas Bandara yakni Angkasa Pura II memunculkan wacana mengurangi beban Bandara Soekarno Hatta dengan memindahkan sebagian penerbangan. Tidak ada pilihan lain, Bandara Halim Perdanakusuma pun dikomersialisasikan.

Artinya, Bandara Halim yang selama ini hanya digunakan untuk penerbangan pesawat pribadi, pesawat latihan TNI AU, sekolah penerbangan dan kedatangan tamu negara, mulai digunakan untuk penerbangan komersil. "Tidak ideal tapi pemerintah tidak punya pilihan lain," ucap Alvin.

Bandara Halim dikomersilkan melalui Keputusan Menteri No 369 yang dikeluarkan pada 25 Mei 2013. Dalam rapat yang digelar Kementerian BUMN, Kementerian Perhubungan, Angkasa Pura II, dan TNI AU, terhitung mulai 10 januari 2014, setiap harinya ada 64 penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta yang dipindah ke Bandara Halim.

Penerbangan yang dipindah merupakan penerbangan di jam-jam padat Bandara Cengkareng. Nantinya, setiap jam akan ada 3-5 penerbangan dari Bandara Halim.

Menteri BUMN Dahlan Iskan yakin dengan kebijakan ini. Walaupun pengurangannya kepadatan tidak dignifikan, tapi bisa menjadi obat sementara. Pemerintah tak punya pilihan dan terpaksa mengkomersilkan Bandara Halim. "Pengurangan kepadatan 5-10 persen sudah lumayan," ujar Dahlan Iskan beberapa waktu lalu.

Menteri Perhubungan EE Mangindaan membantah keras jika ada yang menyebut bahwa kebijakan ini hanya sekadar memindahkan kepadatan. Dia mengklaim pemerintah telah mempunyai perhitungan tersendiri. "Kita sudah ada perhitungannya. Banyak space yang kita hitung," kata Mangindaan.

Ada sembilan maskapai bersiap terbang dari Halim. Maskapai yang bersiap memindahkan sebagian rute penerbangannya ke Halim antara lain Citilink, Garuda, Carlstar, Sky, AirAsia, Jatayu, Lion/Batik Air, Tigerair Mandala, dan Sriwijaya Air.

Pengelola Bandara Halim tak kalah sibuk mempersiapkan sarana dan prasarana penunjang untuk penerbangan komersil. Direktur Keuangan PT Angkasa Pura II Laurencius Manurung menyatakan, pelaksanaan renovasi sudah dijalankan sejak Oktober tahun lalu.

Lokasi ruang tunggu diperluas dari daya tampung saat ini yang hanya 600 penumpang per hari. Selain kapasitas ruang tunggu untuk boarding, Angkasa Pura II juga memperluas sistem check in area jadi 6X15 meter persegi. Iwan mengatakan, loket tiket juga dihilangkan, mengikuti format seperti Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara.

Seiring rencana penggunaan Bandara Halim Perdanakusuma untuk penerbangan komersil, muncul masalah lain. Pertama, Halim selama ini merupakan salah satu pangkalan utama TNI Angkatan Udara. Angkasa Pura II sudah melakukan pembicaraan intensif dengan Komandan Lapangan Udara AU terkait masalah ini.

Untuk sementara, ada siasat buat membagi jadwal, supaya pesawat militer masih bisa latihan atau mendarat di Halim. Navigasi, menara kontrol, dan operasional landas pacu masih jadi bagian militer. Dari pembahasan sementara, TNI AU meminta jatah khusus untuk jam-jam tertentu. Yakni 2 flight pukul 06.00-12.00, 3 flight pada pukul 12.00-18.00, dan 2 flight pukul 18.00-21.00.

Kedua, ada pihak lain yang juga harus diajak berbagi yakni penerbangan pesawat jet pribadi dan pesawat carter. Selama beberapa tahun terakhir, Bandara Halim jadi lokasi penerbangan pribadi konglomerat dan perusahaan besar. Surya Paloh , Chairul Tanjung , atau Oesman Sapta, adalah beberapa tokoh pengusaha yang pesawat pribadinya parkir di Halim.

General Manager Halim Perdanakusuma Iwan Khrishadianto mengatakan, jadwal terbang pesawat pribadi (unscheduled) akan dikurangi. Sebelum ada pemindahan ini, sehari AP II melayani 40 flight penerbangan pribadi.

Masalah lain yakni keberadaan beberapa sekolah penerbangan. Jumlah pesawatnya puluhan, menghabiskan jatah dua slot apron atau lahan parkir pesawat. Ada tujuh sekolah penerbangan yang beroperasi dan memarkir pesawat di Halim. Di antaranya adalah Alfa Flying School, Deraya, dan Sekolah Pilot DSF.

"Memang kemarin kita dari AP II mengusulkan ke Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, supaya flying school dipindahkan, atau tidak melaksanakan home base di Halim," ujarnya.

Alternatifnya, lapangan terbang Pondok Cabe. Namun ini masih dibicarakan ulang.

Masalah lain disampaikan oleh pengusa Ibu Kota, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok . Keputusan yang diambil Pemerintah Pusat ini berdampak kepada arus kendaraan ke arah timur.

Ahok mengatakan Pemerintah Pusat tidak memikirkan dampak kemacetan yang akan terjadi. Ahok menuding pemerintah pusat melempar masalah ini pada Pemprov DKI Jakarta.

"Kalau yang mendukung Halim, bilang tidak akan macet. Kalau saya bilang sih pasti macet. Tapi kita terserah aja deh, Pemerintah Pusat yang mutusin," tegas Ahok .

Berbeda dengan Ahok , Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo ( Jokowi ) justru mendukung rencana ini dan tidak mengkhawatirkan masalah kemacetan yang mengarah ke bandara Halim. Sebab pengguna jasa penerbangan tidak akan terkonsentrasi pada satu bandara melainkan dua.

"Ya itu akan disebarkan orang tidak akan ke barat semua tapi juga ke timur," kata Jokowi .

Tidak dipungkiri, risiko utama membuka bandara halim untuk layanan komersial adalah kemacetan di akses menuju bandara. General Manager Halim Perdanakusuma Iwan Khrishadianto mengaku potensi kemacetan dialami calon penumpang sudah dipikirkan. Sejauh ini titik-titik utama kemacetan sudah berhasil dipetakan.

"Kita pakai rekayasa lalu lintas saja, kayak penutupan jalan, nanti kita juga buat rambu-rambu baru," kata Iwan kepada merdeka.com.

Beberapa akses utama menuju Halim selama ini jadi simpul kemacetan Ibu Kota. Sebut saja putaran Halim dekat exit tol Cawang, atau ruas MT Haryono arah Cikampek.

Humas Angkasa Pura II Dion menuturkan, Jalan Halim Perdanakusuma yang jadi akses utama ke pintu masuk bandara selama ini sering macet di akhir pekan. Arus kendaraan ke Halim Perdanakusuma bakal semakin padat, karena tiga angkutan umum sudah mengajukan izin untuk masuk. Yakni PO Damri, serta dua perusahaan taksi Cipaganti dan Blue Bird.

Dion mengatakan, pengaturan taksi di Halim, sistemnya meniru Bandara Soekarno-Hatta. "Jadi yang boleh ambil penumpang yang pakai stiker anggota. Kalau taksi dari luar, cuma boleh menurunkan penumpang," paparnya.

Terlepas dari itu, keputusan sudah diketok. Bandara yang berdiri sejak 1974 ini bakal resmi menjadi bandara komersil tahun ini. Penumpang maskapai komersil pun nantinya bakal mulai terbiasa mendengar ucapan "Welcome to Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta," saat pesawat hendak lepas landas atau mendarat.

Selamat terbang dari Bandara Halim Perdanakusuma. [noe]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini