Kisah Sukses Van Alen Berawal dari Kasur Tak Nyaman di Asrama

Selasa, 17 September 2019 08:00 Reporter : Merdeka
Kisah Sukses Van Alen Berawal dari Kasur Tak Nyaman di Asrama Ilustrasi tidur. ©Shutterstock/Ammentorp Photography

Merdeka.com - Saat memasuki dunia perkuliahan dan tinggal di asrama California State University, Northridge, Founder sekaligus CEO Sleepyhead Inc, Steven Van Alen harus beradaptasi dengan kehidupan kampus dan asrama dengan fasilitas kasur yang tidak nyaman.

"Siswa biasanya tidak punya pilihan selain tidur di kasur tipis, kadang-kadang digunakan yang disediakan di kamar asrama mereka oleh universitasnya," kata Van Alen dikutip dari CNN Internasional.

Dia menjelaskan, perusahaan Sleepyhead yang dibuatnya lahir atas ketidaknyamanannya tidur di atas kasur tipis hingga membuatnya kekurangan jam tidur. Saat itu, mengganti kasur di asrama bukanlah hal yang mudah, maka solusinya adalah dengan menambahkan toppers atau kasur tambahan di atas kasur.

Di tahun pertamanya, Sleepyhead menjalin kemitraan dengan Dormify, perusahaan online dekorasi asrama dan mendapatkan kontrak untuk menjual toppers kepada siswa di 900 universitas United States.

Untuk setiap 10 toppers yang terjual, Dia menyumbangkan satu toppers untuk organisasi yang bekerja dengan para tunawisma. Hal ini terinspirasi dari saudara perempuannya yang menjadi tunawisma dan hamil pada saat menjadi mahasiswa.

1 dari 2 halaman

Awal Mula Usaha

Ide untuk membuat startup kasur ini Van Alen didapatkan ketika dia sedang mengejar gelar bisnis di Negara Bagian California. Saat itu Dia menghabiskan waktu dua tahun untuk meneliti pemasaran, proses produksi, dan mewawancarai produsen.

Dia memiliki visi untuk menjual produknya yang dirancang khusus agar dapat bertahan dari awal perkuliahan hingga mahasiswa lulus.

Saat itu, Van Alen melihat ada hampir 2 juta siswa Amerika Serikat yang akan bersiap masuk ke perguruan tinggi setiap tahunnya, maka Dia semakin yakin untuk melanjutkan ide bisnisnya. Dia telah memperkirakan pangsa pasar akan semakin tinggi lagi hingga 5 juta siswa jika menghitung jumlah siswa internasional yang tinggal di luar asrama kampus.

Di awal produksi, Van Alen memulai dengan modal pinjaman pribadi sebesar USD 100.000 atau sekitar Rp1,4 miliar (Rp13.965 per USD) dengan kartu kredit bunga nol persen. Lalu Dia masih memikirkan berapa harga produknya dijual, dengan melihat harga produk pesaingnya. Dia akhirnya menguji produknya dengan memberi harga USD 150, namun setelah menyurvei ke beberapa mahasiswa di University of Southern California, kasur buatannya masih dianggap terlalu mahal di kantong mahasiswa.

Setelah itu Dia menguji lagi dengan memasang harga USD 95. Van Alen membuat dua jenis produknya yaitu satu dibuat dengan busa memori gel seharga USD 95 hingga USD 180 tergantung pada ukuran. Sedangkan jenis lainnya yaitu dibuat dengan tembaga-infused dengan bahan yang lebih dingin serta tahan debu dan tungau, dijual seharga USD 110 hingga USD 190.

Produknya diproduksi seluruhnya di China, namun ketika permintaannya meningkat, Dia berusaha mencari pabrik di Amerika Serikat agar proses distribusi lebih cepat sehingga menghemat biaya antar.

2 dari 2 halaman

Kegigihan Bangun Usaha

Pada November 2017, Van Alen mengirim pesan Instagram ke Shawn Nelson, pendiri dan CEO pengecer furniture LoveSac (LOVE), untuk membuka jaringan dengan sesama pengusaha.

Saat itu, Nelson melihat Van Alen seorang yang gigih dalam membangun Sleepyhead, hingga akhirnya Nelson bersedia menjadi seorang mentor dan menginvestasikan USD 150.000 di Sleepyhead.

Hingga saat ini, perusahaan startup ini telah mengumpulkan total dana USD 385.000 dari investor, termasuk Steven J. Heyer, mantan CEO Starwood Hotels dan Resorts Worldwide.

Rencananya, Van Alen akan memperluas usahanya dengan membuat sprei dan bantal karena ambisiusnya untuk membuat rintisan usahanya ini menjadi merek yang paling diminati mahasiswa ketika mereka memulai kehidupan kampus dengan tinggal di asrama.

Reporter Magang: Evie Haena Rofiah [idr]

Baca juga:
Pensiun dari Alibaba, Kekayaan Jack Ma Tembus Rp542 Triliun
Cerita di Balik Orang Terkaya China Tanggalkan Jabatan Saat di Puncak Kesuksesan
Berawal Bujuk Anak, Lia Sukses Kembangkan Bisnis Jus Sayuran
Bisnis Tak Disengaja, Omzet Kerajinan Dewi Kini Raup Rp5 Juta per Bulan
Menengok Kesederhanaan Hidup Miliuner Cantik Berusia 23 Tahun
Miliuner Raja Yoghurt: Jadikan Para Pengungsi Sebagai Pekerja

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini