Kisah bekas taksi gelap Jakarta kini bernilai triliunan rupiah

Jumat, 3 Oktober 2014 16:30 Reporter : Ardyan Mohamad
Kisah bekas taksi gelap Jakarta kini bernilai triliunan rupiah Antrean taksi bandara. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Dari awalnya cuma melayani warga sekitaran Menteng, Jakarta Pusat, kediaman keluarga ini, Chandra melebarkan sayap sampai ke seluruh wilayah DKI Jakarta. Bahkan pada awal 1970, dia sudah memiliki 70 taksi.

Ketika Gubernur Ali Sadikin melegalkan bisnis taksi, Mutiara mengambil kesempatan. Dia nekat meminjam bank, dan menambah armada jadi 100 unit. Perusahaan itu pun diubah namanya menjadi Blue Bird pada 1 Mei 1972.

Bisnis mereka berkembang, tapi bukannya tanpa hambatan. Apalagi banyak persaingan dengan bisnis lain. Bahkan Purnomo sempat kena kasus gara-gara melindungi karyawannya yang dikeroyok sopir lain.

"Saya pernah ditahan polisi, karena berantem memperjuangkan sopir," katanya sambil tertawa.

Purnomo bersyukur, bisnis keluarga ini berhasil dikembangkan menjadi jasa transportasi terintegrasi dari 15 anak usaha mencakup POM Bensin, logistik, sampai hotel. Tidak cuma mengandalkan taksi saja. Bahkan perseroan menjadi pelopor layanan taksi mewah, bernama Silver Bird.

Ini semua, kata Purnomo, karena visi mendiang ibunya yang selalu memandang jauh ke depan. Blue Bird berkembang, dengan menekankan setiap pekerja agar memberi pelayanan terbaik bagi konsumen.

Dari awal direkrut, sopir tidak boleh melakukan pelanggaran sekecil apapun. Ini juga sebabnya Blue Bird punya citra kendaraan umum aman. Walau tarifnya lebih mahal, tapi dipastikan layanan selalu prima.

"Setiap ada yang tidak jujur keluar. Kedua, tidak boleh ada kekerasan fisik. Intinya, kita musti balance antara duniawi dan akherat," kata Purnomo.

Analis ramai menyebut IPO Blue Bird akan meraup dana segar terbesar dalam kurun tiga tahun terakhir. Tapi Purnomo tidak mau terlena euforia. Itu sebabnya perusahaan keluarga ini hanya melepas 20 persen saham, atau setara 531.400.000 lembar saham.

"Saya tidak memikirkan target (hasil IPO). Makanya kita cuma lepas 20 persen, istilahnya kita tidak langsung menjual perusahaan. Karena yang paling penting bagaimana everybody happy," kata Purnomo.

Pendapatan perusahaan taksi ini masih terus tumbuh. Akhir 2013, Blue Bird meraup laba bersih Rp 3,9 triliun. Sedangkan tahun ini, per April 2014, perseroan memperoleh Rp 1,4 triliun.

Purnomo mengakui IPO itu akan mereka gunakan untuk ekspansi menambah 7.504 taksi dan 68 taksi mewah, dan menambah pangkalan di beberapa kota baru.

Sampai di posisi ini, Purnomo mengaku ingin agar Blue Bird bertahan sebagai pemain papan atas bisnis transportasi di Indonesia.

"Paling utama, saya bahagia bisa kasih lapangan kerja puluhan ribu orang," ungkapnya. [noe] SEBELUMNYA

Topik berita Terkait:
  1. Taksi Blue Bird
  2. IPO
  3. Bursa Saham
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini