Khawatir Investasi Tumbuh di Bawah 5 Persen, Pemerintah Obral Insentif Pajak

Kamis, 5 Desember 2019 10:18 Reporter : Anggun P. Situmorang
Khawatir Investasi Tumbuh di Bawah 5 Persen, Pemerintah Obral Insentif Pajak Sri Mulyani Usai Pelantikan. ©2019 Liputan6.com/Tommy Kurnia Rony

Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mewaspadai investasi tumbuh melambat di bawah 5 persen tahun ini. Menurutnya, pemerintah mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen namun tidak dengan investasi. Menyikapi hal tersebut, pemerintah pun menggelontorkan berbagai insentif.

"Pertumbuhan ekonomi memang di atas 5 persen, tetapi kita mesti mewaspadai investasi yang tumbuh di bawah 5 persen. Kita memberikan tax allowance, tax deduction, untuk meningkatkan competitiveness," ujarnya di Hotel Westin, Jakarta, Rabu (4/12).

Untuk tahun yang akan datang, pemerintah akan lebih gencar melakukan terobosan baru menarik investasi. Di antaranya menyederhanakan aturan investasi yang diatur dalam Omnibus Law. Omnibus Law sudah mulai dibahas sejak era Wakil Presiden Jusuf Kalla.

"Sering rapat di kabinet, di tempat wapres, makan siang-malam, dan menghilangkan halangan investasi. Ada 72 UU yang menghalangi dan di-address dalam omnibus law. Kemenkeu akan sampaikan omnibus law ke DPR pada Desember," ujar Menteri Sri Mulyani.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut menambahkan, pemerintah akan terus melakukan penyesuaian kebijakan khususnya bidang investasi agar sesuai dengan tantangan ekonomi yang dihadapi. "Saya terus adjust kebijakan fiskal agar sesuai dengan tantangan yang kita hadapi," tandasnya.

1 dari 1 halaman

Inflow Jangka Menengah Aman, Tidak untuk Jangka Panjang

Wakil Menteri Keuangan RI, Suahasil Nazara mengungkapkan kondisi perekonomian yang penuh tantangan dapat memberi dampak buruk terhadap Indonesia. Salah satunya adalah tersendatnya aliran modal asing masuk (inflow).

Beberapa gejolak global diantaranya trade war atau perang dagang yang tak berkesudahan antara Amerika Serikat dengan mitra dagangnya yaitu China dan Eropa. Serta proses Brexit yang tak kunjung menemukan kejelasan.

"Itu mempengaruhi pemegang dana sehingga mereka wait and see aja, tidak mau ngambil posisi, maunya di tempat yang aman," ujarnya dalam acara Mandiri Outlook 2020, Rabu (4/12) malam.

Saat ini, dia mengatakan inflow masih cukup deras. Namun untuk jangka waktu panjang dikhawatirkan inflow akan mulai tersendat.

Berdasarkan data BI, aliran modal asing masuk (inflow) ke Indonesia dari awal tahun hingga 21 November tercatat telah mencapai Rp220,9 triliun. Terdiri dari Rp174,5 triliun ke SBN, Rp45,3 triliun ke saham dan sisanya Rp1,6 triliun ke obligasi korporasi.

"Sekarang aliran modal masuk masih semangat, dan dalam jangka menengah kayaknya akan semangat terus, kayaknya jangka menengah kita punya prospek aliran modal yang masih semangat ini," ujarnya.

[bim]

Baca juga:
Kemenkeu Sebut Kondisi Perdagangan Dunia Tahun ini Terparah Sejak Krisis 2008
Upah Buruh Indonesia Tergolong Murah, Investor Tetap Pilih Vietnam untuk Relokasi
Airlangga Sebut Ledakan di Monas Tak Pengaruhi Iklim Investasi
Len Industri dan Perusahaan China Bangun Pabrik Panel Solar Cell di Subang
Pemerintah Akui Tak Mudah Undang Investor Masuk ke Proyek Infrastruktur
Andalkan Swasta, Pemerintah Perkecil Porsi Pembiayaan Infrastruktur
Bank Jepang Tertarik Investasi Biayai Proyek Infrastruktur RI Tanpa Utang

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini