Keuntungan untuk Indonesia dari Proyek Penyaluran Listrik Terpanjang Dunia

Kamis, 23 September 2021 14:40 Reporter : Merdeka
Keuntungan untuk Indonesia dari Proyek Penyaluran Listrik Terpanjang Dunia Ilustrasi kabel bawah laut. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Perusahaan asal Australia Sun Cable akan membangun kabel bawah laut yang menghantarkan energi listrik dari Australia ke Singapura. Dengan melewati sebagian wilayah perairan Indonesia, Sun Cable akan menginvestasikan USD 2,5 miliar dan mendorong pembukaan tenaga kerja secara tidak langsung.

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan berharap hal ini bisa berkelanjutan ke depannya. Artinya akan ada investasi lanjutan setelah proyek Australia-Asia PowerLink ini dilaksanakan.

"Kami harap proyek ini bisa lebih berkelanjutan dan memberikan benefit kepada industri di Indonesia dan negara," katanya dalam konferensi pers, Kamis (23/9).

Dia mengaku kaget dengan rencana awal dari proyek penyaluran tenaga listrik terpanjang di dunia ini. Sebab, proyek ini membentangkan kabel dari Darwin, Australia ke Singapura sekitar 4.200 kilometer.

"(semoga) Ini jadi gerbang untuk membuka peluang investasi yang lebih besar ke depannya antara Australia dan Indonesia," kata Menko Luhut.

Menko Luhut mengatakan, dengan dukungan Indonesia terhadap proyek ini, sebagai bukti Indonesia memiliki perhatian terhadap pembangunan energi baru dan terbarukan.

"Ini jadi salah satu dukungan Indonesia dalam membangun energi terbarukan," katanya.

2 dari 2 halaman

Manfaat untuk Indonesia

indonesia

Hadir secara daring, CEO Sun Cable, David Griffin menuturkan bahwa investasi senilai USD 2,5 miliar akan digelontorkan dan diterima manfaatnya oleh Indonesia.

Dia mengatakan akan menggunakan berbagai bahan yang bisa mendorong proyek bentangan kabel bawah laut ini. Kemudian, benefitnya akan dirasakan oleh industri manufaktur di Indonesia.

"Total investasi senilai USD 2,5 miliar ini akan dibagi dua, dengan USD 1 miliar untuk procurement, sementara sisanya akan digunakan untuk kelangsungan selama proyek berjalan," katanya.

Pada dana USD 1 miliar untuk procurement tersebut, itu termasuk dalam persiapan komponen manufaktur yang ada di Indonesia, aktivitas konstruksi, fasilitas operasional dan strategi peluang manufaktur.

Selain itu, David menuturkan, benefit lainnya yang bisa didapat oleh Indonesia adalah pembukaan lapangan kerja sebanyak 7500 orang tenaga kerja secara tidak langsung.

Kemudian juga dua universitas di Indonesia yakni Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berkesempatan ikut dalam riset terkait proyek ini.

Sejauh ini, David mengatakan proses proyek ini masih pada tahap melakukan analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) di sepanjang jalur yang akan dilalui kabel bawah laut AA PowerLink ini.

"Kita punya rekomendasi, jadi kita sedang lakukan amdal, sehingga bisa kita submit pengerjaan dalam beberapa tahun ke depan," katanya.

Dia mengatakan, proyek ini akan berjalan sejak 2024 dan diharapkan akan selesai tahap final pada 2028 mendatang.

Reporter: Arief Rahman

Sumber: Liputan6

[bim]

Baca juga:
Aturan Baru Terbit, Kegiatan ini Dilarang Dilakukan di Sekitar SUTET
ESDM Terbitkan Aturan Cegah Listrik Jawa Padam Akibat Pohon Sengon Terulang
Komponen 11 LS Board Milik PLN di Pekanbaru Dicuri, Pasokan Listrik Terganggu
Teknologi Digital Memungkinkan Otomatisasi Konsumsi Energi
Telan Biaya Rp9,7 Miliar, Desa di Tapanuli Utara Kini Bisa Nikmati Listrik 24 Jam
Penggunaan OSS Masih Terkendala Listrik dan Jaringan Internet
Belum Ada Listrik, Begini Kondisi Memprihatinkan Desa di Mandailing Natal

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini