Keuntungan Investasi Apartemen Terus Turun, Masyarakat Lebih Pilih Beli SBN

Rabu, 9 Januari 2019 16:50 Reporter : Merdeka
Keuntungan Investasi Apartemen Terus Turun, Masyarakat Lebih Pilih Beli SBN apartemen. Merdeka.com

Merdeka.com - Maraknya pembangunan apartemen saat ini ternyata tak sebanding dengan perkembangan bisnis di sektor tersebut. Bahkan, bisnis properti tercatat menurun karena investor lebih suka menyimpan dananya dalam bentuk Sukuk Ritel, Surat Berharga Negara (SBN) maupun deposito.

Senior Associate Director Research Colliers Ferry Salanto menyebutkan, rendahnya minat investasi pada hunian apartemen didorong imbal hasil (yield) lebih kecil dari produk SBN maupun deposito. Hal itu berdampak terhadap tingkat penjualan apartemen yang semakin melemah.

"Penjualan apartemen kenapa enggak bagus-bagus? Karena yield-nya tidak lebih besar dari Sukuk Ritel, SBN, atau deposito. Yield apartemen dari tahun ke tahun terus menurun," ucap dia di Jakarta, Rabu (9/1).

Menurut laporan yang dibacakannya, imbal hasil yang ditawarkan dalam bisnis apartemen hanya sebesar 5,50 persen. Angka tersebut lebih kecil dibanding keuntungan yang ditawarkan Sukuk Ritel terbitan pemerintah seperti seri SBR004 menawarkan imbal hasil sebesar 7,10 persen.

Begitu juga SBN seperti seri ORI15 yang menawarkan imbal hasil 7,00 persen, serta produk deposito yang memiliki tenor antara 1 bulan hingga 1 tahun dengan imbal hasil 6,50 persen.

Sebagai komparasi, dia coba membuat perbandingan, di mana imbal hasil apartemen pada 2013 yang mencapai 10,20 persen tercatat lebih besar dibanding deposito yang hanya 6,39 persen. Adapun yield dalam bisnis apartemen terus menurun, hingga pada 2018 mencatat angka sebesar 5,50 persen, lebih kecil dari imbal hasil deposito 6,20 persen.

Ferry melanjutkan, catatan minus di bisnis properti ini juga terlihat dari peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pada 5 tahun terakhir jumlah DPK tumbuh 9,2 persen.

"Ini mengindikasikan orang lebih cenderung menabung daripada membelanjakan uangnya ke bentuk properti," sebut dia

Namun begitu, dia menyatakan, kebijakan pelonggaran Loan To Value (LTV) oleh Bank Indonesia (BI) bisa menjadi penolong yang membangkitkan geliat bisnis di bidang penjualan apartemen. "Positifnya, revisi LTV oleh BI mendorong pembelian apartemen lebih banyak lagi," pungkas dia.

Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana

Sumber: Liputan6.com [idr]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini