Kerja Sama LCS Jadi Alternatif Kurangi Ketergantungan Terhadap Dollar

Kamis, 5 Agustus 2021 12:28 Reporter : Merdeka
Kerja Sama LCS Jadi Alternatif Kurangi Ketergantungan Terhadap Dollar rupiah. shutterstock

Merdeka.com - Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Benny Soetrisno, menilai adanya kerjasama local currency settlement (LCS) dengan China, menjadi alternatif Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap dollar Amerika Serikat (AS) sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"LCS menurut saya satu alternatif pembiayaan yang lebih simple dibandingkan kita menggunakan dollar Amerika Serikat. LCS adalah solusi mengurangi ketergantungan kita terhadap dollar untuk menjaga juga stabilitas rupiah yang selama ini dengan USD selalu ada yang diuntungkan dan dirugikan," kata Benny, Kamis (5/8).

Dia menjelaskan, dilihat dari latar belakangnya, China merupakan mitra dagang utama, namun setelmen perdagangan masih didominasi USD. Begitupun dengan skala ekonomi dan volume perdagangan di Kawasan meningkat tapi mayoritas masih dalam USD.

Sebagai contoh Benny mengatakan, jika menukar rupiah ke USD untuk impor selalu dikenakan kurs di atas. Namun untuk menukarkan rupiah hasil ekspor ke USD, Indonesia kursnya selalu dipatok di bawah. Hal itu tentu merugikan bagi Indonesia.

"Kalau kita menukar USD dalam negeri untuk mengimpor dari rupiah ke USD kita selalu dipatok dengan kurs diatas, kalau kita menukarkan hasil ekspor kita diberikan kursnya di bawah itu ada kerugian saya kira," jelasnya.

Oleh karena itu, Apindo menyambut baik adanya kerjasama LCS Indonesia-China. Di mana LCS ini banyak manfaatnya, di antaranya diversifikasi eksposur mata uang, mengurangi biaya transaksi, pengembangan mata uang regional, dan membuka akses partisipasi lokal.

"Manfaatnya diversifikasi eksposur mata uangnya bisa lebih baik dan mengurangi biaya transaksi, pengembangan pasar mata uang regional dan membuka akses partisipasi lokal," imbuhnya.

Namun di samping itu, penggunaan mata uang lokal untuk setelmen transaksi perdagangan saat ini masih relatif kecil, karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pasar valas dalam local currency di regional belum berkembang.

Kemudian, pricing discovery tidak efisien karena belum terdapat direct quotation antar mata uang lokal. Dimana, saat ini mekanisme perdagangan RMB/IDR masih dilakukan secara cross rate sehingga kurs RMB/IDR yang terbentuk tidak efisien. "Kondisi ini dapat menjadi insentif bagi pengembangan LCS yang memungkinkan mekanisme direct trading yang lebih efisien," ujarnya.

Faktor selanjutnya, yaitu terdapat regulasi yang membatasi non internasionalisasi mata uang lokal. Serta preferensi pelaku usaha cenderung menggunakan hard currency (USD). "Karena ketergantungan terhadap komponen impor untuk produksi dan volatilitas mata uang lokal juga sangat mempengaruhi sekali," pungkasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6.com [azz]

Baca juga:
Kemendag Beberkan Keuntungan Penggunaan Mata Uang Lokal dalam Kerja Sama Bilateral
Alasan RI Pakai Mata Uang Lokal dalam Kerja Sama dengan China
Mendag Lutfi Sebut Nilai Perdagangan RI-Inggris Masih Rendah
Peluang Kerja Sama Polri-Kepolisian Panama, Berantas Perdagangan Orang dan Narkoba
Peluang Kerjasama dengan Panama, Polri Sebut Perdagangan Manusia Jadi Perhatian
Indonesia-Singapura Sepakat Kerja Sama 6 Sektor ini

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini