Kericuhan Aksi 22 Mei Berdampak Negatif ke Iklim Usaha

Jumat, 24 Mei 2019 11:33 Reporter : Siti Nur Azzura
Kericuhan Aksi 22 Mei Berdampak Negatif ke Iklim Usaha Aksi 22 Mei di depan Bawaslu. ©Liputan6.com/Helmi Fithriansyah

Merdeka.com - Kericuhan yang terjadi selama dua hari di sekitar gedung Bawaslu tidak hanya merugikan demonstran dan pihak kepolisian, namun sektor ekonomi juga terdampak dengan adanya kerusuhan tersebut.

Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Muda Muslim Nasional (Permunas) Mulyadi Siregar menilai kericuhan ini berdampak negatif bagi iklim usaha. Seperti tutupnya aktivitas perdagangan di pasar Tanah Abang hingga menimbulkan kerugian mencapai Rp100 miliar.

"Kami dari perkumpulan pengusaha muda muslim nasional ( permunas) meminta agar tidak ada lagi kericuhan yang membuat cemas warga. Mari kembali membangun persatuan kita bersama sebagai sesama anak bangsa," ujar Mulyadi, Jumat (24/5).

Dia pun berharap agar situasi politik ini bisa segera mereda sehingga iklim usaha akan kembali normal. "Mari merajut kembali persaudaraan yang selama ini terpolarisasi akibat pilihan politik," tandasnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DKI Jakarta Sarman Simanjorang memperkirakan kerugian transaksi perdagangan di ibu kota mencapai sekitar Rp100 miliar hingga Rp1,5 triliun pasca aksi 22 Mei yang melumpuhkan sejumlah titik kegiatan ekonomi.

"Kerugian perdagangan kita sangat-sangat besar, bisa di kisaran Rp100 miliar hingga Rp1,5 triliun saya rasa. Itu hanya transaksi perdagangan," kata Sarman dikutip Antara, Kamis (23/5). [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini