KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Kenal lebih dekat Dirut Bank Nusantara Parahyangan Hideki Nakamura

Selasa, 25 Juli 2017 13:44 Reporter : Anwar Khumaini
Dirut BNP Nakamura. ©2017 merdeka.com/andrian salam wiyono

Merdeka.com - Bank Nusantara Parahyangan (BNP) belum lama ini mempunyai direktur utama (dirut) baru. Adalah Hideki Nakamura, pria asal Jepang tersebut yang terpilih sebagai pemimpin tertinggi bank yang berpusat di Bandung tersebut. Meski asli Jepang, Nakamura ternyata fasih berbahasa Indonesia. Kemahirannya berbahasa Indonesia lantaran saat kuliah Nakamura mengambil jurusan Bahasa Indonesia di Universitas Osaka Jepang.

Bahkan, skripsinya saat itu membahas tentang Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dalam kontestasi pemilihan umum di Indonesia tahun 1987 silam.

"Skripsi saya waktu itu membahas PPP (Partai Persatuan Pembangunan) tahun 1987," cerita Nakamura mengawali pembicaraan saat ditemui merdeka.com di kantornya, Kamis (20/7) lalu.

Tak lama setelah lulus kuliah, Nakamura memutuskan untuk hijrah ke Indonesia. Berbagai pengalaman hidup dia alami hingga akhirnya terpilih sebagai Direktur Utama BNP.

Bagi Nakamura, Bank BNP tidak sekadar bank yang cuma mementingkan keuntungan saja. Dia punya cita-cita besar terkait hal ini, yakni bagaimana menjadikan nama 'Parahyangan' sebagai kebanggaan. "Nama Parahyangan jangan dianggap nama kampung. Justru nama Parahyangan punya keistimewaan, beda dengan bank-bank lainnya," ujar Nakamura.

Berikut wawancara merdeka.com dengan Hideki Nakamura:


Bisa dijelaskan profil singkat bapak?

Saya lahir tahun 1964 di Kota Osaka Jepang. Sampai kuliah saya disana. Saya bisa berhubungan dengan Indonesia, karena waktu saya kuliah saya ambil jurusan Bahasa Indonesia di Universitas Osaka, tepatnya sastra dan budaya Indonesia. Skripsi saya waktu itu membahas PPP (Partai Persatuan Pembangunan) tahun 1987. Kenapa skripsinya begitu? PPP itukan partai Islam. Tapi kenapa tidak bisa menang. Jawabannya kita semua sudah tahu: agama dan politik itu berbeda.

Narasumber/sampel skripsi Anda saat itu?

Dari buku. Ada Profesor dari Jepang, dan ada dari Sunda Prof Ajib Rosidi yang seorang budayawan. Beliau meski sudah tua tapi sehat. Beliau di Bandung buka perpustakaankan untuk tetap mempertahankan budaya Sunda.

Kesimpulannya skripsi waktu itu?

Kesimpulannya agama dan politik itu beda. Saya tidak menjalankan budaya Indonesia saat itu. Kebijakan sosial politik itu agak susah.

Akhirnya saya datang ke Indonesia dan terjun ke perbankan. Waktu itu tahun 1987 banyak teman-teman yang ingin kerja di luar negeri, masuk trading company saat itu lagi booming. Tapi kalau masuk trading company harus menjadi satu spesialis bidang tertentu. Bidang kimia misalkan. Dulu tahun 80-an bank-bank juga mulai mengembangkan bisnisnya ke Asia. Tadinya ke Amerika. Jadi saya tahu budaya Indonesia dan pengembangan perbankan ke Asia. Why not? Saya pertama kali join Indonesia di Jakarta tahun 1989. Jadi kesempatan pasti ada.

Total karir 16 tahun di perbankan di Indonesia. Saat itu saya bolak balik (pindah kerja) hingga kembali di BNP 2 Juni 2017 dan diangkat jadi dirut. Awalnya 2007 Desember posisinya sebagai direktur perencanaan sampai September 2010. Saya bolak balik sana sini. Akhirnya saya kembali ke sini lagi.

Dirut BNP Nakamura ©2017 merdeka.com/andrian salam wiyono



Baru dua bulan ini jadi Dirut BNP. Ada kesulitan kerja di Bandung?

Waktu dulu saya kerja di BNP Jakarta. Masih kurang familiar dengan Bandung. Cuma kadang-kadang kombinasinya kurang dengan Jakarta. Tapi lama kelamaan saya nggak ada masalah juga.

Di bawah kepemimpinan Anda, BNP mau dibawa ke mana?

Kita punya misi tetap mengembangkan bisnis. Jadi jelas Bank Nusantara Parahyangan harus memperhatikan daerah Parahyangan, Bandung dan sekitarnya. Saya punya ambisi pelayanan-pelayanan BNP di mana bank pusat tidak melakukan pelayanan itu. Seperti apa? Kalau bank pusat secara skala punya apa saja seperti koneksi. Kalau kita di Bandung kita ingin buat klub dengan costumer. Meski secara langsung tidak menjadi profit bagi kami, tapi itu akan membuka permasalahan dengan itu akan menjadi mitra usaha.

Kita di Jakarta ada tapi brandingnya nggak kuat. Karena saya lihat costumer yang percaya kami itu bukan melihat bank-nya tapi orangnya. Jadi nasabah-nasabah itu benar-benar membuat kemitraan sebagai instansi itu dibuat dari Bandung, nah setelah itu Jakarta. BNP di Bandung sudah punya keistimewaan. Bank ini memang sudah lama sejak 1972. Pada tahun 2007 modal asing mengakuisisi. Kalau BNP orang sudah tahu tapi istimewanya apa? Itu akan saya ciptakan. Saya akan menciptakan sosial yang kuat, kontrol nasabah. Saya ingin dapatkan masukan-masukan. Bank itu memang mencari profit iya. Tapi harus juga memberi kontribusi ekonomi secara nasional dan daerah dulu.

Target market BNP?

Saat ini target kita dari sisi perkreditan rumah, manufacturing. Kita menggali itu. Karena trading costumer juga mulai belajar manufacturing.

Bank BNP kan pusatnya ada di Bandung. Ada keinginan kembangkan bisnis UKM di Bandung?

Dikatakan makro mikro perlu sistemnya. Terus orang juga banyak program. Selama 2010 saya nggak pernah coba (UKM). Selain pasukan nggak cukup, kontrol kurang. Investasi sistem juga kurang. Jadi nggak bisa seperti BRI, BTPN. Dulu arahannya sudah nggak usah saja. Apalagi setelah ada Undang-Undang KUK itu kan Bank Swasta nggak ada kesempatan lagi untuk kredit mikro. Pemerintah memang memerintahkan agar usaha kecil harus dikembangkan dengan program KUK. Kalau program KUK ini diimplementasikan bank besar seperti Mandiri, BNI, BCA. Kalau CIMB niaga, BTPN sudah nggak lagi. Jadi itu tugasnya KUK mungkin menurut saya Bank BUMN 3 plus BCA.

Dirut BNP Nakamura ©2017 merdeka.com/andrian salam wiyono




Yang ingin diraih bank BNP di bawah kepemimpinan bapak?

Bank kami itu segmen susunannya dua. Desain propabilitasnya gak kalah. Kita interest margin tinggi. Jadi propabilitasnya terus dinaikkan. Karena kita juga harus mencari efisiensinya. Karena dulu‎ Kami pernah kembangkan mikro dan gagal kita masih ada warisan-warisan sebelumnya. Karyawan terlalu banyak. Akhirnya efisiensi. Tapi kita sekarang rebranding. Bank BNP semua tahu datangnya dari Bandung.

Untuk meningkatkan profit, apa langkah yang akan dilakukan?

Ya mungkin kalau nasabah banyak profit naik, bisa investasi untuk membangun sistem kita. Misalkan internet banking, SMS banking, ada sekarang itu. Tapi lagi dibenahi.

Sekarang zaman sosmed, millenial. Bagaimana biar nggak ketinggalan dan biar masyarakat luas lebih kenal BNP?

Terus terang saja masih jauh. Yang penting untuk sementara harus kenal BNP dan keistimewaannya. Kita masih ada limit untuk digital itu memang.

Kendala regulasi pemerintah?

Setahu saya peraturan pemerintah masih masuk akal. Contoh harus nilai laporan keungan, kita patuhi. Apalagi ada tax amnesty. Masih banyak pengusaha yang belum laporan keuangannya. Mereka mau tapi minta waktu. OJK meminta analisa kredit harus laporan kredit. Ini kadang-kadang mendapatkan hambatan.

Dirut BNP Nakamura ©2017 merdeka.com/andrian salam wiyono




Harapannya?

Nggak ada. Maksudnya gini, peraturan OJK juga sebenarnya kalau mau ambil itu omzet sama harta dibatasi. Maksudnya kalau perusahaan kecil-kecil tidak harus bank lapor.

Tapi yang midle masih bingung permasalahannya. Nasabah yang sudah siap saja ke ambil. Tapi kalau costumer harus jelaskan track recordnya gimana.

Pertanyaan terakhir, bagaimana terkait rebranding BNP?

Ini benar-benar mau menjadi mitra pengusaha bank BNP. Artinya apa, bukan hanya permasalahan financial saja, tenaga kerja, budget, tapi itu selalu dikonsultasikan. Sehingga kita sediakan total solution program. Sehingga menjadi gateway jika pengusaha punya permasalahan dan menjadi mitra usaha bukan keuangan saja. Itu message saya. Pokoknya nama Parahyangan jangan dianggap nama kampung. Justru nama Parahyangan punya keistimewaan, beda dengan bank-bank lainnya. [war]

Topik berita Terkait:
  1. Perbankan
  2. Highlight
  3. Jakarta
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.