Kemenperin dorong ekspor produk otomotif ke Selandia Baru

Kamis, 4 Oktober 2018 16:12 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Kemenperin dorong ekspor produk otomotif ke Selandia Baru New Zealand Tech Day 2018. ©Istimewa

Merdeka.com - Indonesia dan Selandia Baru berkomitmen untuk meningkatkan nilai perdagangan bilateral hingga dua kali lipat minimal dalam empat tahun ke depan, salah satunya melalui kerja sama di sektor industri. Pada 2017, nilai perdagangan kedua negara mencapai NZD 1,76 miliar (sekitar Rp 17,6 triliun) yang ditargetkan bakal menjadi NZD 4 miliar (Rp 40 triliun).

"Yang akan kami dorong, misalnya mereka bisa membuka pasar untuk otomotif dan komponen dari Indonesia, kemudian mereka mengembangkan dairy product di Indonesia. Nah, ini yang bisa dilakukan dan kami yakin trade-nya bisa naik," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangan tertulis, Kamis (4/10).

Menperin menjelaskan, Pemerintah Indonesia tengah memacu produktivitas dan daya saing industri otomotif guna memenuhi kebutuhan di pasar domestik dan ekspor. Langkah ini sesuai implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0.

"Selama ini, Indonesia sudah mengekspor produk otomotif ke ASEAN, Timur Tengah hingga Amerika Latin. Kami melihat, pasar otomotif di Australia dan Selandia Baru sangat bagus. Apalagi posisi lokasinya lebih dekat," paparnya.

Kementerian Perindustrian memproyeksi, produsen otomotif di Indonesia akan ekspor kendaraan dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) hingga menembus 250.000 unit pada 2018. Sejumlah industri otomotif di dalam negeri telah menyatakan komitmennya untuk menambah investasi, tenaga kerja, dan ekspor.

Selanjutnya, Indonesia membuka peluang bagi Negeri Kiwi untuk meningkatkan investasinya, terutama di sektor industri pengolahan susu. Sebab, industri pengolahan susu merupakan salah satu sektor andalan bagi Selandia Baru. Mereka menjadi investor dan pengekspor produk susu terbesar dunia, termasuk ke Indonesia.

Contohnya, Fonterra yang telah menanamkan modalnya di Indonesia sebesar Rp 735 miliar (NZD 36 juta) sejak 2015 lalu. Pembangunan pabrik pengolahan susu di Bekasi, Jawa Barat adalah realisasi investasi terbesar perusahaan tersebut di kawasan ASEAN dalam satu dekade terakhir.

Di samping itu, menurut Menperin Airlangga, Selandia Baru memiliki kekuatan teknologi dalam pengembangan industri makanan dan minuman. Upaya yang diharapkan, yakni dapat terjadinya transfer teknologi guna mendongkrak daya saing industri makanan dan minuman nasional di era digital.

"Kedua negara berminat menjalin kemitraan di sektor industri makanan dan minuman karena sama-sama dikaruniai sumber daya alam yang melimpah, terangnya. Apalagi, bagi Indonesia, industri makanan dan minuman konsisten memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional, tercermin dari sumbangsih terhadap PDB industri pengolahan nonmigas mencapai 35,87 persen."

Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia Trevor Matheson menyampaikan, pihaknya melihat peluang besar bagi Selandia Baru untuk berkontribusi dan mendukung Indonesia dalam pengembangan di bidang teknologi. Saat ini, Selandia Baru sedang menerapkan solusi inovatif di sektor manufaktur fast-moving consumer goods (FMCG), termasuk pembangunan dan konstruksi untuk meningkatkan produktivitas dan efektivitas.

"Perusahaan-perusahaan Selandia Baru serius mengembangkan kemitraan dengan Indonesia untuk mendorong penerapan teknologi di semua sektor, termasuk manufaktur. Apalagi saat ini kita berupaya masuk ke era revolusi industri 4.0 dengan peralihan teknologi inovatif sebagai hal yang vital," jelasnya.

Perluasan kemitraan antara Indonesia dan Selandia Baru menjadi momen penting dalam rangka merayakan 60 tahun hubungan diplomatik kedua negara. Kerja sama bilateral telah didukung dengan adanya Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN Australia Selandia Baru (AANZFTA). [bim]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini