Kejar Pemulihan Ekonomi, Sri Mulyani Waspadai Rendahnya Penyaluran Kredit

Rabu, 22 September 2021 19:20 Reporter : Anisyah Al Faqir
Kejar Pemulihan Ekonomi, Sri Mulyani Waspadai Rendahnya Penyaluran Kredit Menkeu Sri Mulyani. ©Setpres RI

Merdeka.com - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menilai pemulihan ekonomi nasional masih perlu diwaspadai meskipun pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2021 sebesar 7,1 persen (yoy). Sebab, dari sektor perbankan belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.

Salah satunya tercermin dari realisasi penyaluran kredit pada Juli 2021 hanya tumbuh 0,5 persen. Padahal biasanya pertumbuhan kredit mencapai dua digit.

"Penyaluran kredit perbankan pada akhir Juli 2021 baru tumbuh 0,5 persen, masih sangat kecil dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II sampai 7,1 persen," kata Sri Mulyani dalam pembukaan Penandatanganan MoA Strategic Sharia Banking Management (SSBM), Jakarta, Rabu (22/9).

Sri Mulyani menjelaskan, sektor perbankan merupakan sektor keuangan terbesar yang menjalankan fungsi intermediasi. Perbankan menerima simpanan dana masyarakat yang kemudian disalurkan kembali dalam bentuk pembiayaan. Pembiayaan tersebut diarahkan untuk kegiatan produktif baik untuk investasi, ekonomi produktif maupun konsumsi. Sehingga roda perekonomian bergerak.

Kondisi sebaliknya terjadi pada penghimpunan dana masyarakat. Dana Pihak Ketiga (DPK) selama pandemi Covid-19 selalu tumbuh dua digit. Sampai Juli 2021, pertumbuhan DPK mencapai 10,34 persen. Hal ini menunjukkan perbankan kelebihan likuiditas dan penyaluran kredit untuk kebutuhan kegiatan produktif belum menunjukkan perbaikan.

"Artinya perbankan dengan likuiditas yang banyak, karena masyarakat yang menempatkan dananya di perbankan namun perbankan belum melakukan penyaluran dalam kegiatan produktif," kata dia.

2 dari 2 halaman

Pekerjaan Rumah

Kondisi ini pun menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi para pemangku kepentingan di sektor keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Bersama pemerintah para regulator harus mengawal dan menjaga stabilitas sistem keuangan. Namun di sisi lain juga harus mendorong sistem keuangan agar terus bergerak menopang pemulihan ekonomi nasional.

"Ini akan jadi PR kita untuk sama-sama dengan sektor keuangan mengawal dan menjaga stabilitas sistem keuangan dan di sisi lain mendorong sistem keuangan sebagai penopang pemulihan ekonomi nasional," kata dia.

Meski begitu, Sri Mulyani sedikit merasa sedikit lebih baik karena NPL gross berada di level 3,24 persen. Hal ini merupakan hasil dari kebijakan relaksasi kredit yang dikeluarkan OJK sejak tahun lalu. [idr]

Baca juga:
Wamenkeu: Perbankan Lebih Tertarik Beli SUN Ketimbang Salurkan Kredit
Survei BI: Penyaluran Kredit Perbankan Mayoritas untuk KPR di Agustus 2021
BI Catat Pembiayaan Agustus Sektor Real Estat hingga Informasi dan Komunikasi Naik
Menteri Erick Akui Kredit UMKM Indonesia Termasuk Terendah di Dunia
Bos UOB Indonesia: Pertumbuhan Kredit Belum Sesuai Target
UOB Indonesia Gunakan Strategi Sepak Bola untuk Hindari Kredit Macet

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini