Kecilnya uang kiriman TKI dinilai jadi sebab rupiah rapuh

Rabu, 11 Maret 2015 18:31 Reporter : Putri Artika R
Sofyan Djalil. ©2014 merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil meyakini pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hanya sementara. Pelemahan itu lebih disebabkan angin perubahan kebijakan moneter bank sentral Negara Paman Sam.

"Nanti begitu AS sudah menetapkan policy tentang penyesuaian federal rate, itu akan ada keseimbangan baru dan investasi akan kembali lagi. Tidak ada alasan bahwa ini karena kondisi internal. Jadi, Tidak usah khawatir yang penting masyarakat jangan panik," kata Sofyan saat ditemui di Istana Negara, Jakarta, Rabu (11/3).

Penutupan perdagangan Rabu (11/3) ditandai dengan merosotnya nilai tukar rupiah sebesar 0,75 persen menjadi Rp 13.192 per USD. Di sisi lain, sejumlah mata uang regional menguat.

"Bahwa kemudian ada yang mengatakan hari ini rupiah melemah, Filipina (peso) menguat itu dapat dijelaskan"

Peso menguat, kata Sofyan, lantaran remitansi atau kiriman uang dari pekerjanya di luar negeri mencapai USD 20 miliar per tahun. Sementara rupiah rentan melemah lantaran kiriman uang TKI ke Tanah Air hanya USD 7 miliar per tahun.

Selain itu, lanjut Sofyan, Indonesia mengalami defisit neraca jasa. "Sektor jasa harus kami perbaiki, misal asuransi, re-asuransi. Kemarin kan DPR setuju untuk menambah dana modal kepada perusahaan asuransi, re-asuransi."

Sofyan menyebut pelemahan rupiah memiliki dampak beragam bagi pelaku industri.

Kalau yang ekspor dengan bahan domestik itu positif sekali karena mendapatkan rupiah lebih banyak dengan harga yang sama," katanya. "Yang impor untuk ekspor juga netral. Yang impor untuk pasar domestik itu yang terpengaruh." [yud]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.