Kalah dari India dan Malaysia, jumlah emiten BEI wajib ditambah

Senin, 18 November 2013 12:31 Reporter : Sri Wiyanti
Penutupan Bursa. ©2012 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan jumlah emiten di pasar modal Indonesia relatif kalah banyak dibanding negara-negara di kawasan. Misalnya Thailand, Singapura, Malaysia, Hongkong, dan India.

Kepala Eksekutif OJK Bidang Pasar Modal, Nurhaida, mengatakan, hingga September 2013 emiten yang tercatat di pasar modal Indonesia baru sebanyak 479 emiten. Dalam periode yang sama, Bursa Thailand sudah memiliki 577 emiten, Singapura 782 emiten, Malaysia 909, dan Hongkong 1.585. Di India, jumlah perusahaan publik yang tercatat di pasar modal bahkan sudah mencapai 5.267.

"Pasar modal Indonesia masih sangat minim dibanding negara-negara lain. Oleh karena itu perlu meningkatkan market kita dari ukuran maupun jenis produknya," kata Nurhaida di Hotel Le Meridien, Jakarta, Senin (18/11).

Nurhaida mengatakan, saat ini produk-produk yang tersedia di pasar modal juga masih sangat terbatas. Hal ini menjadi salah satu penyebab pasar modal Indonesia bergantung pada investor asing.

"Perlu kerjasama seluruh pelaku industri. Produk-produk yang tersedia di pasar modal juga terbatas, yang berkembang saham, bond lumayan, reksa dana masih ada, derivatif minim jadi dengan adanya keterbatasan produk yang ada itu kemudian pasar kita sangat sensitif terhadap investor asing," urainya.

Kendati demikian, pergerakan pasar modal Indonesia dalam 5 tahun terakhir dinilai relatif cukup baik meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus menurun dalam beberapa waktu terakhir. Pada 2009, kapitalisasi pasar modal Indonesia baru sekitar Rp 2.019 triliun, sedangkan kini telah meningkat menjadi Rp 4.360,34 triliun di tahun 2013.

"Hari-hari sekarang pasar modal yang terjadi naik turun dengan cepat dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Pergerakan indeks juga minimum Indeks per hari ini, kemarin naik tipis sekali, IHSG hanya sekitar 1 persen. Sejak Mei-Agustus penurunan indeks sangat dalam," kata Nurhaida.

Oleh sebab itu, Nurhaida meminta berbagai pihak untuk menyikapi kondisi pasar baik global maupun dalam negeri. "Kita tidak bisa intervensi terhadap pasar modal. Kita harus hati-hati terhadap kondisi makro secara global, memberi sentimen negatif pergerakan IHSG, ada tapering off yang belum pasti juga," ujarnya. [ard]

Topik berita Terkait:
  1. Bursa Saham
  2. OJK
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini