Jelang pasar bebas ASEAN, tenaga kerja Indonesia masih rapuh

Minggu, 6 April 2014 18:00 Reporter : Ahmad Baiquni
Jelang pasar bebas ASEAN, tenaga kerja Indonesia masih rapuh Buruh Gabungan. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Gelombang tenaga kerja asing akan menyerbu masuk ke Indonesia saat berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 nanti. Hal ini dapat menjadi ancaman bagi tenaga kerja dalam negeri, lantaran kemampuan yang tidak mencukupi.

"Mungkin 80 persen tenaga kerja kita dalam posisi menengah ke bawah," ujar Anggota Komisi IX DPR RI Rieke Dyah Pitaloka saat berbincang dengan merdeka.com di Jakarta, Minggu (6/4).

Rieke mengakui MEA tidak begitu mengancam bagi sebagian tenaga kerja seperti insinyur, arsitek, dan kesehatan. Tetapi, hal itu berbeda bagi tenaga kerja yang masuk kategori unskill (buruh, petani), sehingga perlu dipersiapkan secara serius.

"Mayoritas tenaga kerja Indonesia merupakan unskill worker, yang bekerja di wilayah bahaya dan sulit. Dalam posisi ini mustinya kan dipersiapkan," ungkap Rieke.

Selanjutnya, terang Rieke, MEA merupakan situasi yang harus dihadapi dan tidak dapat dihindari lagi. Sehingga, menurut dia, harus ada terobosan agar dampak terburuk dari MEA dapat ditanggulangi.

"Tinggal menunggu beberapa hari lah hitungannya, harus dipersiapkan langkah-langkah terobosan-terobosan di mana persoalan tenaga kerja ini harus masuk dalam kebijakan industri ke depan ini," kata Rieke.

Lebih lanjut, Rieke menjelaskan Indonesia tidak mungkin menghadapi MEA sendiri. Untuk itu, menurut dia, harus ada pembicaraan intensif agar MEA dapat berjalan tanpa harus menimbulkan korban.

"Harus ada lobi-lobi tingkat tinggi agar terjadi proteksi terhadap tenaga kerja," pungkas dia. [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini