Jawab Tantangan Masa Depan, Reformasi Tenaga Kerja Sektor Keuangan Perlu Dilakukan

Kamis, 18 Agustus 2022 20:32 Reporter : Anisyah Al Faqir
Jawab Tantangan Masa Depan, Reformasi Tenaga Kerja Sektor Keuangan Perlu Dilakukan Peluncuran IDX30. ©2012 Merdeka.com/imam buhori

Merdeka.com - Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara menyebut bahwa sumber daya manusia (SDM) di sektor keuangan perlu dilakukan reformasi. Mengingat sektor ini membutuhkan tenaga kerja yang dinamis.

"Sektor keuangan ini adalah salah satu sektor yang cukup dinamis, menerima orang-orang muda cukup dinamis. Selain tempat belajar juga jadi tempat yang baik untuk membina karir," kata Suahasil saat menghadiri rapat Badan Legislasi di Kompleks DPR, Jakarta, Kamis (18/8).

Saat ini tercatat ada 1,6 juta pekerja di sektor keuangan. Pertumbuhannya tiap tahun mencapai 2,56 persen.

Ketika pandemi, penyerapan tenaga kerja mengalami penurunan. Namun saat kondisi semakin pulih, Suahasil optimis sektor keuangan kembali banyak menyerap tenaga kerja.

"Kalau kita lihat pertumbuhan tenaga kerja ada kesan setelah 2019 agak ada penurunan. Namun ini karena ada Covid, tapi kita yakin setelah ini akan naik lagi ke atas," kata dia.

Dia melanjutkan, jika membandingkan Indonesia dengan beberapa negara lain, pekerja sektor keuangan rasionya 1,1 persen dari total pekerja secara umum. Angka ini tidak terlalu jauh dari Filipina maupun Thailand.

Berbeda dengan Singapura yang rasionya mencapai 4,4 persen. Hal ini terjadi karena Negeri Singa tersebut memang menjadi hub sektor keuangan.

"Nah tentu singapura beda dengan kita," kata dia.

2 dari 2 halaman

Profesi Pendukung

Selain pekerja di sektor keuangan itu sendiri, Suahasil menilai sektor ini membutuhkan profesi pendukung. Semisal akuntan, yang sangat penting karena mereka yang memastikan laporan keuangan itu proper.

"Bisnis sektor keuangan adalah bisnis kepercayaan maka itu entitasnya harus bisa dipercaya. Salah satu yang harus memastikan kepercayaan adalah akuntan juga aktuaris," kata dia.

Bisnis sektor keuangan dibutuhkan untuk menilai aset, baik masa lalu maupun potensi-potensi ke masa depan. Aktuaris penilai menjadi sangat penting.

"Kita lihat Indonesia relatif berbeda dengan negara lain tapi kita belum terlalu banyak," kata dia.

Setidaknya Indonesia membutuhkan 22 ribu akuntan profesional. Agar bisnis sektor keuangan lebih maju dan berdampak pada perekonomian nasional.

"Ini tentu menjadi PR kita, memiliki akuntan yang lebih banyak dan berkualitas, aktuaris penilai yang lebih banyak dan berkualitas," pungkasnya. [idr]

Baca juga:
Menko Airlangga Minta Investasi Mobil Listrik Toyota Serap Tenaga Kerja Lokal
Program Padat Karya Jadi Fokus Pemerintah Serap Tenaga Kerja
BCA Butuh Lebih dari 2.000 Karyawan IT, Terbuka untuk Fresh Graduate
Tips Membentuk Superteam di Dunia Kerja
Strategi Ampuh Raih Tawaran Kerja via LinkedIn

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini