Jaksa Agung Belum Berencana Periksa Rini Soemarno Terkait Kasus Jiwasraya

Rabu, 8 Januari 2020 15:54 Reporter : Anggun P. Situmorang
Jaksa Agung Belum Berencana Periksa Rini Soemarno Terkait Kasus Jiwasraya Rini Soemarno. ©2017 merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Jaksa Agung ST Burhanuddin belum berencana memanggil Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno atas kasus gagal bayar Asuransi Jiwasraya. Pihaknya hingga kini masih memeriksa oknum yang diduga melakukan tindak pidana.

"Belum sampai sana. Saya akan memeriksa saksi-saksi yang mengarah kepada perbuatan itu tindak pidana dulu. Kalau itu nanti ya Mba, apakah ada relevansinya tapi kita belum," ujarnya di Kantor BPK, Jakarta, Rabu (8/1).

Burhanuddin mengatakan, apabila dalam perjalanan pemeriksaan kasus gagal bayar perusahaan milik negara tersebut, ternyata ada keterlibatan pemimpin BUMN sebelumnya maka akan langsung dilakukan pemeriksaan. Hal ini kemudian akan disampaikan kepada publik.

"Kalau nanti dari lingkaran ini, lingkaran yang kami periksa ada menuju ke situ pasti (diperiksa). Pasti. Tapi sampai saat ini belum ada," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Agung Firman Sampurna mengatakan, terdapat 16 temuan terkait skandal Asuransi Jiwasraya. Ke 16 temuan tersebut terkait dengan pengelolaan bisnis, investasi, pendapatan dan biaya operasional PT AJS sepanjang 2014 hingga 2015.

Beberapa temuan BPK di antaranya investasi pada saham TRIO, SUGI, dan LCGP Tahun 2014 dan 2015 tidak didukung oleh kajian usulan penempatan saham yang memadai. Kemudian, Jiwasraya berpotensi menghadapi risiko gagal bayar atas Transaksi Investasi Pembelian Medium Term Note PT Hanson Internasional (HI).

"PT AJS juga menurut BPK, kurang optimal dalam mengawasi reksadana yang dimiliki dan terdapat penempatan saham secara tidak langsung di satu perusahaan yang berkinerja kurang baik," kata Agung.

2 dari 2 halaman

Jaksa Agung: Jiwasraya Lakukan 5.000 Transaksi Investasi Sepanjang 2008 Hingga 2019

jiwasraya lakukan 5000 transaksi investasi sepanjang 2008 hingga 2019 rev10

Jaksa Agung ST Burhanuddin menyebut bahwa PT Asuransi Jiwasraya melakukan investasi sebanyak 5.000 transaksi pada 2008 hingga 2019. Untuk itu, diperlukan kehati-hatian dalam mengungkap kasus gagal bayar perusahaan pelat merah tersebut.

"Tolong beri kesempatan kami karena transaksi yang terjadi itu hampir 5.000 transaksi jadi perlu waktu. Saya tidak ingin gegabah dan teman-teman di BPK juga sangat membantu kami," ujarnya di Kantor BPK, Jakarta, Rabu (8/1).

Burhanudin melanjutkan, hingga kini pihaknya sudah memeriksa 98 saksi penting atas kasus ini. Meski demikian Kejaksaan Agung enggan merinci satu persatu pihak yang terlibat dalam kasus raksasa tersebut.

"Kami sudah periksa 98 orang yang perbuatannya melarang hukum. Mereka semua sudah mengarah ke satu titik. Bukti-buktinya sudah ada tapi saya tidak bisa menyebutkan," jelasnya.

Burhanuddin berjanji akan mengungkap para oknum yang harus bertanggungjawab atas kasus tersebut. "Insya Allah dalam waktu 2 bulan insyaAllah sudah diketahui siapa pelakunya yang betul-betul. Karena jujur, ini kasus yang cukup besar," jelasnya.

Sementara itu, Ketua BPK Agung Firman Sampurna menyebut sebanyak 5.000 transaksi investasi terdiri dari macam-macam investasi. Beberapa di antaranya pembelian saham, reksa dana, serta pengalihan pendapatan.

"5000 transaksi itu yang seluruhnya sedang kita identifikasi apakah ada kecurangan atau tidak. Jadi jangan khawatir, itu yang sedang kami dalami," paparnya. [idr]

Baca juga:
Jaksa Agung: Jiwasraya Lakukan 5.000 Transaksi Investasi Sepanjang 2008 Hingga 2019
BPK Pernah Ingatkan Jiwasraya Terkait Saham Gorengan, tapi Tetap Dilakukan
BPK: Kasus Jiwasraya Sistemik dan Besar, Libatkan Banyak Pihak & Transaksi Besar
BPK: Laba Jiwasraya di 2006 Hasil Manipulasi Laporan Keuangan
KPK Desak Kejaksaan Agung Tuntaskan Kasus Jiwasraya
Hasil Investigasi BPK Soal Kasus Jiwasraya Diharapkan Jadi Titik Terang

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini