Jaga Pertumbuhan Ekonomi 2019 di 5 Persen, Pemerintah Diminta Lakukan ini

Kamis, 7 November 2019 16:43 Reporter : Merdeka
Jaga Pertumbuhan Ekonomi 2019 di 5 Persen, Pemerintah Diminta Lakukan ini Ilustrasi supermarket. © therichest.com

Merdeka.com - Tahun 2019 akan berakhir dalam 2 bulan. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus melambat sejak kuartal I. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, ekonomi Indonesia melambat menjadi 5,02 persen saja pada kuartal III.

Dalam kondisi seperti ini, banyak pihak mengatakan akan sulit bagi Indonesia mencapai target pertumbuhan ekonomi. Namun, ada beberapa hal yang bisa dipertahankan. Seperti menjaga daya beli masyarakat.

"Konsumsi rumah tangga kita kan masih besar, itu bisa dijaga dari sisi pemerintah agar tidak membuat kebijakan yang mengganggu daya beli masyarakat. Setidaknya ekonomi akan bertahan di kisaran 5 persen lah," ungkap peneliti Indef Abdul Manap Pulungan di Jakarta, Kamis (7/11).

Opsi ini disarankan karena jika mengandalkan investasi dan perkembangan industri akan butuh waktu lebih lama.

Sebelumnya, Founder lembaga riset dan kebijakan ekonomi Sigma Phi Indonesia, Arif Budimanta turut menilai, meskipun ekonomi masih tumbuh positif, tetapi realisasi data pertumbuhan terbaru ini menjadi peringatan bahwa perekonomian nasional tengah menghadapi problem struktural. Selain itu, ekonomi nasional diperburuk dengan kondisi ekonomi global yang melambat dan risiko ketidakpastian yang meningkat.

"Komponen Ekspor Bersih maupun Investasi yang diharapkan tumbuh tinggi dan mengubah struktur PDB justru mengalami perlambatan yang cukup signifikan sehingga belum berhasil mentransformasi struktur PDB Indonesia yang hingga saat ini masih sangat didominasi oleh sektor konsumsi," ujar dia.

1 dari 2 halaman

Pemerintah Akui Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Tertekan Dampak Resesi Dunia

Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, mengakui pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02 persen pada kuartal III-2019 menjadi terendah dibandingkan beberapa kuartal sebelumnya. Menurutnya, realisasi tersebut dikarenakan imbas dari dampak pelemahan kondisi perekonomian dunia.

"Pertumbuhan oleh BPS perekonomian kita meski tumbuh 5,02 persen itu lebih rendah dibanding beberapa kuartal sebelumnya ini dampak dari kondisi global dan kita secara berkelanjutan berusaha memberikan support agar perekonomian bisa dijaga momentum pertumbuhannya," kata dia dalam acara Indonesia Banking Expo 2019 di Jakarta, Rabu (6/11).

Meski tercatat rendah, namun pemerintah memandang pertumbuhan sebesar 5,02 persen ini tetap memberikan optimisme ke depannya. Mengingat, kata dia, banyak negara-negara maju lainnya yang pertumbuhan ekonominya tertekan.

"Bahkan seperti China yang sekarang level 6 persen turunnya dari 2-3 tahun lalu. Turunnya yang biasanya China double digit 10-11 persen turunnya ke 6 persen. Indonesia masih di level 5 persen dan akan kita jaga momentumnya," tanda dia.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal III-2019 sebesar 5,02 persen (year on year/yoy). Angka ini lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2019 yang sebesar 5,05 persen yoy.Juga lebih rendah jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2018 sebesar 5,17 persen yoy.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal III-2019 dipengaruhi beberapa hal. Dari sisi pengeluaran jumlah konsumsi rumah tangga masih tumbuh positif sebesar 5,01 persen.

2 dari 2 halaman

Konsumsi Rumah Tangga Masih Jadi Tulang Punggung Pertumbuhan Ekonomi

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal III-2019 sebesar 5,02 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2019 yang sebesar 5,05 persen.

Kepala BPS, Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal III-2019 dipengaruhi beberapa hal. Dari sisi pengeluaran jumlah konsumsi rumah tangga masih tumbuh positif sebesar 5,01 persen.

Posisi pertumbuhan konsumsi rumah tangga Kuartal III-2019 tersebut naik tipis dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,01 persen. Namun jika dibandingkan Kuartal-II 2019 posisi konsumsi rumah tangga mencapai 5,17 persen atau menurun jika dibanding posisi sekarang.

"Konsumsi rumah tangga masih cukup bagus 5,01 persen. Ada beberapa yang tumbuh tinggi dan beberapa tertahan," ujarnya di Kantornya, Jakarta, Selasa (5/11).

Pria yang akrab disapa Kecuk ini menyebut salah satu pertumbuhan terhadap konsumsi rumah tangga bisa dilihat dari komponen makanan dan minuman, selain restoran yang tumbuh sebesar tumbuh 5,18 persen. Kemudian diikuti dengan komponen kesehatan dan pendidikan sebesar persen. Sementara sisanya mengalami perlambatan.

"Komponen kesehatan dan pendidikan di mana pada kuartal III-2019 mencapai 7,4 persen jauh lebih kuat dibanding periode sebelumnya. Karena di pendidikan ada tahun ajaran baru pada Juli," kata dia.

Di samping itu, sumbangsih kelompok pengeluaran Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri tumbuh melambat sebesar 4,21 persen. Hampir seluruh komponen ini mengalami kontraksi kecuali pada (cultivated biological resources/CBR) yang tumbuh sebesar 3 persen.

"Berdasarkan sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III-2019 (y-on-y), sumber pertumbuhan tertinggi berasal dari Komponen PK-RT sebesar 2,69 persen, diikuti Komponen PMTB sebesar 1,38 persen. Sementara sumber pertumbuhan ekonomi dari Komponen lainnya sebesar 0,95 persen," tandasnya.

Reporter: Athika Rahma

Sumber: Liputan6

[bim]

Baca juga:
Layanan Nonton Film Streaming Salah Satu Penyebab Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi RI
Proses Izin Berbelit-belit Hingga Aturan Pajak Buat Investor Ogah Masuk Indonesia
Menko Airlangga Susun Program Prioritas Ekonomi 2020-2024
Data Pertumbuhan Ekonomi BPS Diragukan, Ini Tanggapan Istana
Airlangga Kumpulkan Semua Menteri Ekonomi, Bahas Apa?
Jokowi: Hampir Semua Negara Pertumbuhan Ekonominya Turun, Kita Masih Diberi 5 Persen
Presiden Jokowi: Kita Harus Hati-Hati, Ada Negara yang Sudah dan Menuju Resesi

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini