Jadi Menko Perekonomian, Ini Fokus Kerja Airlangga

Rabu, 23 Oktober 2019 13:15 Reporter : Supriatin
Jadi Menko Perekonomian, Ini Fokus Kerja Airlangga Airlangga di Istana. ©2019 Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Airlangga Hartarto resmi ditunjuk sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dalam Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024, menggantikan Darmin Nasution. Sebelumnya, Airlangga menjabat Menteri Perindustrian di periode pertama Jokowi mulai 2016.

Dia mengatakan, fokusnya ke depan adalah melanjutkan berbagai program yang sudah dijalankan, seperti Undang-Undang Cipta Lapangan Kerja dan Omnibus Law. Nantinya, rancangan Omnibus Law akan dibicarakan secara detail dengan DPR.

"Programnya adalah melanjutkan program, UU Cipta Kerja dan Omnibus Law itu jadi prioritas. Kegiatan ekonomi berbasis kewilayahan, yaitu pertumbuhan wilayah, koordinasi antar kementerian untuk mencapai program pemerintah yang dicanangkan Presiden Jokowi," kata Airlangga di Jakarta, Rabu (23/10).

Selain itu, dia juga akan fokus untuk mengurangi defisit neraca perdagangan dengan membentuk peta jalan atau roadmap. Hal ini sesuai dengan amanah Presiden Jokowi agar masalah ini bisa diselesaikan.

"Defisit neraca perdagangan butuh waktu. Karena perdagangan itu ekspor, itu butuh investasi. Current account itu deltanya adalah migas," imbuhnya.

Sebelumnya, Airlangga memenuhi panggilan Presiden Joko Widodo, Senin (21/10). Dalam pertemuan itu Presiden memintanya untuk menyelesaikan defisit neraca perdagangan yang kian membengkak dalam beberapa bulan belakangan. Presiden Jokowi juga memintanya untuk mengembangkan kawasan ekonomi.

"Tantangan ke depan gimana kita memiliki kondisi terkait dengan defisit neraca perdagangan, juga terkait kawasan-kawasan ekonomi," ujar Airlangga di Istana Negara, Jakarta, Senin (21/10).

Airlangga diharap mampu memilih produk unggulan baru yang nantinya bisa mendongkrak ekspor Indonesia. Tentunya, penciptaan produk unggulan tersebut harus melalui kawasan ekonomi industri yang telah ada selama ini.

Dia juga diminta menciptakan industri yang mampu melakukan substitusi impor. "Bagaimana meningkatkan efisiensi dan peningkatan produksi dan implementasi biofuel dan juga bagaimana mengembangkan kawasan yang bisa menggenjot sektor tekstil dan lain," jelasnya. [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini