Inspiratif, perusahaan waralaba besar Indonesia ini dibangun dari nol

Selasa, 3 April 2018 07:12 Reporter : Desi Aditia Ningrum
Inspiratif, perusahaan waralaba besar Indonesia ini dibangun dari nol Kebab Turki Baba Rafi. ©2018 Merdeka.com/Azzura

Merdeka.com - Saat ini usaha waralaba semakin menjamur di Indonesia. Hal ini tentu karena peluang usaha tersebut sangat menjanjikan. Meskipun untuk menjalankan usaha waralaba cenderung beragam, ada yang mahal, ada pula yang murah. Semua itu tergantung potensi usaha itu sendiri dalam jangka panjang.

Tapi tahu kah Anda, jika sebagian waralaba besar yang ada di Indonesia mempunyai kisah menarik hingga menjadi seperti sekarang. Cerita ini mungkin bisa jadi inspiratif bagi yang akan menjalankan usaha waralaba. Di mana pada awalnya setiap usaha tidak langsung menjadi besar dan dikenal. Banyak proses yang mesti dilalui. Apa saja waralaba tersebut? Berikut ulasannya.

1 dari 5 halaman

Ayam bakar Mas Mono

ayam bakar mas mono. ©Istimewa

Sebagian orang mungkin pernah makan ayam bakar Mas Mono. Hampir di setiap kota besar, ayam bakar ini hadir untuk para pecinta ayam. Namun, di balik suksesnya waralaba ini terselip kisah bagaimana awal berdirinya usaha tersebut.

Awalnya, ayam bakar milik Pramono atau akrab disapa mas Mono dijual di gerobak di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Di hari pertama jualan, gerobak mas Mono ambruk hingga ayamnya berjatuhan. Itu karena, gerobak yang digunakan adalah gerobak gorengan. Tentunya gerobak tersebut tak kuat menahan beban jika digunakan untuk berdagang ayam bakar yang harus membawa nasi yang banyak.

Waktu pun telah berlalu, dengan kerja kerasnya itu mas Mono dapat mendirikan kedai yang kokoh hingga bisa membuka cabang sampai ke luar negeri. Dengan nilai investasi mulai dari Rp 380 juta, sudah bisa bekerjasama dengan waralaba ayam bakar Mas Mono.

2 dari 5 halaman

Es teller 77

es teler 77. ©blogspot.com

Ide dari Murniati Widjaja untuk mendirikan usaha es teler berbuah manis. Berkat sikap pantang menyerahnya, saat ini Es Teller 77 ini mempunyai banyak outlet. Belum banyak yang tahu jika dulunya usaha tersebut hanya berdiri di sebuah warung tenda sederhana. Warung tersebut terletak di teras sebuah pertokoan Duta Merlin di kawasan Jakarta Pusat.

Es teller 77 pertama kali diwaralabakan oleh menantu, Murniati, Sukyanto Nugroho tahun 1987 atau saat menginjak usia enam tahun usaha itu berdiri. Tepat di tahun 1977, es teller 77 mengikuti trend gaya hidup dengan membuka gerai di Mal.

Untuk mendapat waralaba Es Teler 77, biayanya Rp 100 juta selama lima tahun. Adapun investasi membuka gerai Es Teler 77 berkisar Rp 1 miliar hingga Rp 1,5 miliar.

3 dari 5 halaman

Kebab baba Rafi

Kebab Turki Baba Rafi. ©2018 Merdeka.com/Azzura

Bagi pecinta kebab, tentu tak asing lagi dengan kebab baba Rafi. Usaha yang mulai didirikan sejak tahun 2003, didirikan oleh Hendy bersama mantan istrinya. Dengan modal gerobak sederhana Hendy dengan semangat berjualan kebab di Surabaya.

Ternyata usaha ini sangat menjanjikan, karena ketika dua tahun berjalan Kebab Baba Rafi pun mulai diwaralabakan. Setelah itu usaha tersebut telah berkembang sangat cepat hingga mempunyai ratusan outlet di seluruh Indonesia.
Investasi membuka outlet kebab baba Rafi sekitar Rp 75 juta.

4 dari 5 halaman

Pecel lele Lela

pecel lele lela. ©wordpress.com

Tak banyak yang tahu bahwa sebelum usaha pecel lele Lela berdiri, sang pendiri, Rangga Umara, mengalami jatuh bangun mendirikan bermacam bisnis. Rangga memutuskan untuk membuka usaha dilatarbelakangi dari perusahaan tempatnya bekerja mengalami krisis keuangan. Oleh karena itu sebelum dipecat, dia harus membuka usaha.

Pernah beberapa kali gagal membuka usaha, akhirnya Rangga berniat untuk membuka usaha lele sebagai makanan utama di restorannya. Tapi ternyata lele bukan menjadi makanan favorit pembeli karena pembeli kebanyakan menjadikan lele makanan pilihan kedua setelah ayam.

Dia mengakui jika pada masa-masa percobaan menu lele masih aneh bentuknya, bahkan menyerupai pisang goreng. Namun seiring berjalannya waktu lele yang dibaluri tepung itu menjadi andalan. Pelanggan yang suka makan ayam mulai beralih ke lele. Hingga akhirnya bisnis pecel lele ini diwaralabakan. Jika anda tertarik, investasi atau modal usaha pecel lele berkisar antara Rp 600 juta sampai Rp 700 juta,sudah termasuk franchise fee Rp 100 juta selama lima tahun, deposit senilai Rp30 juta, dan dekorasi desain interior eksterior.

5 dari 5 halaman

Dcost

dcost. ©dcostseafood.com

Siapa yang tak kenal, tempat makan D'cost? Gerainya hampir menghiasi di setiap mal di seluruh Indonesia. Restoran spesialisasi seafood ini mempunyai slogan 'Mutu Bintang Lima, Harga Kaki Lima'. Soal rasa tak diragukan lagi, bagi pecinta makanan laut sudah pasti ketagihan. D'Cost didirikan Christian Sia pada 2006, di bawah bendera PT Pendekar Bodoh namun saat ini diteruskan oleh anaknya Darmawan Ekaputra atau disapa Darek. Darek mengakui, sejak tahun 2006 sebenarnya sudah membantu D'Cost.

Saat Dartek masih kuliah ia yang mendesain promo itu. Darek sering berdiskusi dengan papa saya bagaimana untuk bisa meningkatkan brand awareness D'Cost. Seiring berjalannya waktu, D'cost menjadi tempat makan favorit keluarga. Pendiri juga mulai mewaralabakan D'cost dengan biaya sekitar Rp 500 juta.

  [has]

Baca juga:
Cerita sukses Minshew, pengusaha cantik sempat ditolak 148 investor
Intip tips ampuh berbisnis ala bos Warunk UpNormal
Cerita Sarita Sutedja tentang rahasia sukses Warunk UpNormal hingga Nasgor Mafia
Deretan pengusaha cilik omzet miliaran, salah satunya di Indonesia
Cerita sukses 10 anak muda Indonesia dalam daftar '30 under 30' Forbes 2018
Bisnis terlihat sepele, tapi mendulang uang jutaan
Merek lokal asli Indonesia yang mendunia

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini