Ini solusi KPPU tekan harga cabai tanpa harus impor

Senin, 20 Februari 2017 14:21 Reporter : Salviah Ika Padmasari
Ini solusi KPPU tekan harga cabai tanpa harus impor Cabai merah. ©2016 merdeka.com/hana adi

Merdeka.com - Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf mengatakan pihaknya menolak rencana impor cabai yang akan dilakukan pemerintah untuk menstabilkan harga cabai yang masih bergejolak. Menurutnya, rencana tersebut bukan solusi yang tepat untuk menekan harga cabai yang masih tinggi hingga saat ini.

Sebagai informasi, harga cabai saat ini masih tinggi. Di Kota Makassar sendiri, harga cabai masih di kisaran Rp 90.000 hingga Rp 100.000 per kilogram.

"Pokoknya kami meminta supaya opsi untuk melakukan impor cabai dalam rangka menstabilkan harga yang begitu tinggi jangan dilakukan," kata Syarkawi di Makassar, Senin (20/2).

Untuk itu, KPPU menawarkan tiga solusi untuk menekan harga cabai tanpa impor. Pertama, mengatur pola tanam cabai. Menurutnya, fenomena di tengah masyarakat petani di beberapa tempat, maka mereka beramai-ramai akan menanam cabai.

Akibatnya, dari luasan tanaman cabai yang besar itu akan menghasilkan banyak pasokan sehingga harga cabai jadi turun. Karena harga turun, cabai-cabai ini kemudian diterlantarkan bahkan diganti dengan tanaman lain lagi. Efeknya, satu atau dua bulan berikutnya harga cabai jadi fluktuatif.

"Solusi atau strategi kedua adalah mengatur rantai distribusi, paling tidak dari sisi margin harga yang harus dinikmati oleh masing-masing pihak yang ada dalam mata rantai distribusi cabai ini," imbuhnya.

Dia menjelaskan, mata rantai distribusi cabai masih panjang, menyebabkan salah satu level yang menikmati margin yang terlalu tinggi sehingga harga di pasar menjadi tidak terkendali atau sangat tinggi. Ketiga, kampanye pola konsumsi cabai di tengah masyarakat yakni konsumsi cabai olahan khususnya untuk komoditi cabai rawit.

Di level bandar dalam mata rantai distribusi cabai ini, berpotensi mempermainkan pasokan ke riteler, ke agen atau langsung mereka. Bandar inilah yang membuat kesepakatan harga yang membuat harga cabai menjadi tinggi.

Untuk itu, KPPU tengah mengumpulkan bukti mengenai keberadaan bandar tersebut. Sebab menurutnya, produksi cabai yang menurun hingga 30-50 persen seharusnya tidak membuat harga capai tinggi hingga menyentuh Rp 100.000.

"Makanya diduga bandar-bandar inilah yang melakukan kesengajaan untuk satu mengatur pasokan ke pasar yang membuat pasokan di pasar itu kurang, tidak stabil. Kita sedang kumpulkan bukti-buktinya apakah pola seperti ini benar-benar terjadi di lapangan," pungkas Syarkawi.

[idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini