Ini Kelebihan Moda Transportasi O-Bahn Dibanding Transjakarta

Minggu, 26 Mei 2019 21:30 Reporter : Merdeka
Ini Kelebihan Moda Transportasi O-Bahn Dibanding Transjakarta lrt. ©2015 wikimedia.org

Merdeka.com - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan melakukan kajian untuk pengembangan o-bahn, moda transportasi berkonsep bus dengan jalur khusus seperti jalur kereta.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Zulfikri mengatakan, ada sejumlah keunggulan yang dimiliki o-bahn dibandingkan dengan moda transportasi massal lain. Secara biaya, membangun o-bahn memang membutuhkan biaya yang lebih mahal ketimbang membangun TransJakarta, lebih murah dibandingkan dengan membangun LRT atau MRT.

"Untuk bangun LRT itu biayanya Rp 500 miliar per km, apalagi kalau bangun MRT. ‎Untuk o-bahn, biayanya 30 persen (lebih mahal) dibandingkan busway, tapi lebih murah dibandingkan LRT," ujar dia di Jakarta, Minggu (23/6/2019).

Sementara dari sisi kapasitas, lanjut dia, daya angkut penumpang yang dimiliki o-bahn lebih besar jika dibandingkan dengan TransJakarta atau Bus Rapit Transit (BRT).

"O-bahn ini utk kapasitas 20 persen di atas busway. O-bahn sama dengan BRT tapi dengan daya angkut yang lebih besar. Dia lebih unggul dibandingkan dengan bus biasa, dibandingkan trem juga lebih unggul," ungkap dia.

Menurut Zufikri, dengan kapasitas angkut yang lebih besar ini akan membuat biaya operasional o-bahn lebih efisien meski membutuhkan investasi yang lebih besar ketimbang TransJakarta.‎

"Secara umum, pembangunan o-bahn 20 persen lebih mahal dari busway, tetapi produktivitas penumpang per km yang bisa diangkut itu lebih. Kalau pembangunan lebih mahal, tapi secara biaya operasi lebih murah. Karena kapasitas angkut yang lebih besar," tandas dia.

Untuk tahap awal dari rencana ini, pihaknya akan melihat sejumlah kota yang dinilai cocok untuk dibangun moda transportasi ini.

"Tahap awal kita akan lihat di beberapa kota. Setelah itu, kita gandeng konsultan yang baik untuk bikin feasibility study. Kita ajukan dulu ke menteri untuk banchmark ke beberapa negara," ujar dia.

‎Sementara itu, Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Zulfikri mengatakan, o-bahn akan dibangun di wilayah-wilayah yang selama ini belum memiliki angkutan massal yang efektif.

‎‎"O-bahn akan diterapkan di kota-kota yang angkutannya belum optimal. Kita diskusi terus untuk apa yang kita kembangkan. Yang cocok yang tidak ada angkutan umum massal yang besar, seperti misalnya Ciledug. Daerah yang tidak ada akses kereta, nanti dikembangkan dengan o-bahn," jelas dia.

Menurut Zulfikri, sejumlah negara telah mengembangkan moda transportasi ini. Negara-negara tersebut yang akan dijadikan contoh dari pengembangan o-bahn di Indonesia.

"Ini sudah kembangkan di Australia. Kemudian juga sudah ada di Nagoya (Jepang). Di sana dari awalnya rata-rata kecepatan bus dari 12 km menjadi 30 km per jam. Di Inggris juga sudah ada," tandas dia.

Reporter: Septian Deny

Sumber: Liputan6.com [idr]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini