KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Ini alasan para pedagang terjun ke bisnis hewan kurban

Minggu, 11 September 2016 12:40 Reporter : Hana Adi Perdana
hewan kurban. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Penjual hewan kurban kian menjamur setiap tahunnya. Bahkan, keberadaan mereka menjadi pemandangan umum yang tidak terhindarkan jelang hari raya Idul Adha.

Menjamurnya keberadaan para pedagang hewan kurban seiring dengan permintaan masyarakat yang terus meningkat pada saat hari raya Idul Adha.

Salah satu pedagang hewan kurban di Bekasi, Thohir Ar Robi mengaku masih menjadi 'pemain baru' dalam bisnis jual hewan kurban. Pria asal Tuban, Jawa Timur ini, awalnya hanya menjual daging kambing di pasar tradisional. Namun, menjadi penjual daging kambing dirasa belum cukup baginya untuk menambah penghasilannya.

Bermodalkan kambing hasil ternaknya serta uang sebesar Rp 200 juta, Thohir memilih menginvestasikan uangnya untuk membeli kambing dari tengkulak. Kambing-kambing itu lah yang saat ini dia jual jelang hari raya kurban.

"Jualan kambing itu investasi menjanjikan. Modal besar, tapi dapatnya juga besar," kata Thohir kepada merdeka.com, akhir pekan lalu.

Di momen tahunan ini, dirinya hanya menjual kambing sebanyak 115 ekor. Sementara untuk Sapi, dirinya tidak menjualnya sebab modalnya terlalu besar. Meski demikian, dengan hanya menjual kambing saja sudah cukup menguntungkan baginya.

"Modalnya terlalu besar, tapi kambing saja sudah cukup," tuturnya.

Pria paruh baya ini menjual hewan kurban bervariasi, mulai dari Rp 2 juta sampai Rp 4,5 juta. "Semua tergantung ukuran. Semakin besar semakin mahal," ucapnya.

Di tahun keempatnya berjualan, hewan kurban yang ia jual selalu ludes terjual. Keuntungannya yang diraupnya mencapai ratusan juta hanya dengan 10 hari berjualan.

"Selalu habis, tapi tahun kemarin sisa sedikit. Kalau habis terjual , saya dapet kotor Rp 300 juta-an," imbuhnya.

Sementara itu, Supranoto (35), penjual hewan kurban lainnya, mengatakan hal senada. Dari berjualan sapi dan kambing, dirinya meraup untung ratusan juta.

"Saya modal itu hampir Rp 450 juta, dapet kotor itu bisa hampir Rp Rp 700 juta-an," kata dia.

Keuntungan tersebut didapat dari hasil penjualan 100 ekor kambing dan 20 sapi dengan varian harga yang berbeda. Untuk kambing, dirinya menjual dengan harga Rp 1,8 juta untuk ukiran kecil, Rp 3 juta sedang dan Rp 4 juta ukuran besar. Sementara Sapi, dirinya menjual dengan harga Rp 21 juta untuk ukuran kecil, dan Rp 30 juta-an untuk ukuran besar.

"Kambing itu saya ngambil dari tengkulak modalnya sekitar Rp 1 juta untuk yang kecil, Rp 2 juta yang sedang dan Rp 2,5 juta-an yang besar. Kalau Sapi, ukuran kecil hanya Rp 15 juta dan yang besar Rp 20 juta-an," jelasnya.

Jika saat jualan tidak habis, kambingnya akan dibawa pulang dan diternakkan kembali. Selain itu, hewan-hewan ini bisa dijual kembali di pasar dalam bentuk daging mentah.

"Lumayan, modal dijamin balik dan untung. Harga juga nggak jatuh. Bisa dijual lagi di pasar atau untuk tahun depan," tutupnya. [sau]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.