Ini alasan industri minuman beralkohol tetap moncer meski banyak hambatan

Senin, 13 Agustus 2018 12:54 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Ini alasan industri minuman beralkohol tetap moncer meski banyak hambatan

Merdeka.com - Plt Dirjen Industri Agro Kementerian Perindustrian, Ahmad Sigit Dwi Wahyono mengakui bahwa industri makanan dan minuman merupakan salah satu industri dengan kinerja paling moncer. Ini dikarenakan terus meningkatnya jumlah wisatawan mancanegara di Indonesia.

"Meningkatnya wisatawan baik lokal maupun mancanegara ikut mendorong pesatnya industri beralkohol. Mengingat saat ini sudah mampu memproduksi minuman beralkohol jenis premium sebagai substitusi terhadap minuman beralkohol import," ungkapnya di Kompleks PT Multi Bintang Industri, Tangerang, Banten, Senin (13/8).

Tercatat, pertumbuhan industri makanan dan minuman pada triwulan pertama 2018, mencapai 12,70 persen. Sektor ini berkontribusi 35,4 persen terhadap PDB industri nonmigas.

Sementara itu, kontribusi industri minuman beralkohol terhadap penerimaan negara dari pita cukai pada tahun 2017 sebesar Rp 5,2 triliun. Sedangkan nilai ekspor mencapai USD 7,6 juta pada 2017.

"Dari dulu pertumbuhannya pasti di atas pertumbuhan ekonomi bahkan bisa dua kali lipat dari pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekspor industri periode Januari-Juni 2018, untuk minuman tumbuh 8,4 persen," imbuhnya.

Selain itu, untuk pemenuhan kebutuhan wisatawan beberapa produsen menjajaki pasar ekspor. Dalam lima tahun terakhir rata-rata pertumbuhan nilai ekspor 12 persen per tahun.

Kenyataan ini terbilang membanggakan, jika dibandingkan dengan negara produsen minuman beralkohol lain, seperti Thailand. Sebab adanya 'hambatan' berupa ketatnya pengawasan produksi minuman alkohol di dalam negeri.

Diketahui, sejak 1993 industri minuman beralkohol diawasi sangat ketat. Sejak dikeluarkannya Perpres No 54 tahun 1993, sudah tidak dibuka investasi baru untuk industri ini.

"Ya mereka (negara lain) kan tidak ada hambatan-hambatan tertentu ya. Kalau di Indonesia kan industri ini saja kita tutup untuk investasi. Itu kan merupakan hambatan. Yang ada hanya perluasan saja. Itu salah satu hambatan. memang ini kan tuntutan moral dari masyarakat Indonesia sendiri," jelasnya.

"Pembinaan untuk industri ini adalah pengendalian dan pengawasan baik dari aspek perizinan, produksi, mutu dan peredaran. Perpres 74/2014 tentang pengendalian dan pengawasan minuman beralkohol serta Permenperin 63/2014. Sebagai upaya agar produknya betul berkualitas dan aman dikonsumsi," lanjut dia.

Karena itu, untuk meningkatkan sektor industri minuman beralkohol, Pemerintah getol melancarkan berbagai kebijakan seperti, tax holiday maupun tax allowance.

"Kalau dari Kementerian Perindustrian kita dorong diberlakukan 4.0, jadi internet of things kemudian robotik dan sebagainya ini diharapkan bisa meningkatkan daya saing baik dalam aspek kapasitas maupun kualitas," tandasnya. [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini