Inflasi Juni 0,6 persen, ini pendorongnya

Jumat, 1 Juli 2016 11:47 Reporter : Novita Intan Sari
Inflasi Juni 0,6 persen, ini pendorongnya BPS. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,6 persen pada Juni 2016.Dari 82 kota yang diteliti, seluruhnya mengalam inflasi.

Kepala BPS Suryamin mengatakan inflasi tertinggi terjadi di Pangkal Pinang sebesar 2,14 persen. Dan, terendah terjadi di Padang 0,10 persen.

"Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran seperti kelompok bahan makanan 1,62 persen," ujar dia di kantornya, Jakarta, Jumat (1/7).

Adapun penyebab utama inflasi 0,66 persen di Juni, antara lain :

1. Tarif angkutan udara, kenaikan harga 8,27 persen, dengan andil 0,08 persen dan bobot 1,02 persen. Karena permintaan jasa angkutan udara meningkat jelang Idul Fitri, mulai Mei sudah memasuki libur dan Juni memasuki bulan puasa maka pencatatannya tentu sampai kemarin sudah mulai arus mudik. Kenaikan terjadi di 38 kota IHK, tertinggi di Balikpapan 46 persen dan Tarakan 38 persen.

2. Daging ayam ras, kenaikan harga 5,63 persen, dengan andil 0,07 persen dan bobot 1,26 persen. Ini disebabkan adanya kenaikanya harga di distributor, dan terjadi di 74 kota IHK. Tertinggi di Bima sebesar 28 persen dan Louksumawe sebesar 24 persen.

3. ikan segar, kenaikan harga 2,15 persen dengan adil 0,06 persen dan bobot 2,66 persen. Artinya terjadi porsi konsumsi masyarakat yang mulai memakan ikan, namun kurang pasokan lantaran nelayan sulit melaut.

4. Telur ayam ras, kenaikan harga 5,86 persen dengan adil 0,04 persen dan bobot 0,73 persen. Karena naiknya permintaan puasa dan lebaran, terjadi di 79 kota IHK dengan tertinggi di Palu 20 persen dan Sorong 16 persen.

5. Gula pasir, kenaikan harga 6 persen dengan andil 0,04 persen dan bobot 0,55 persen. Ini terjadi karena permintaan naik, terjadi di 81 kota IHK dengan tertinggi di Balikpapan 17 persen.

6. Wortel dan Kentang, kenaikan harga sebesar 27,16 persen dengan andil 0,03 persen dan bobot 0,15 persen, ini juga karen permintaan naik namun pasokan berkurang. Terjadi di 76 kota IHK, tertinggi di Aceh 134 persen dan Louksumawe 131 persen.

7. Beras, kenaikan harga 0,58 persen dengan andil 0,02 persen dan bobot 3,58 persen, terjadi di 46 kota IHK.

8. Bayam, kenaikan harga 7,55 persen dengan andil 0,02 persen dan bobot 3,02 persen, terjadi di 58 kota IHK dan tertinggi di Batam 41 persen dan Bulukumba 38 persen.

9. Apel, kenaikan harga 5,62 persen dengan andil 0,02 persen dan bobot 0,3 persen, terjadi di 69 kota IHK, tertinggi di Denpasar dan Mataram 30 persen serta Madiun 24 persen.

10. Tarif Dasar Listrik, kenaikan harga 0,58 persen dengan andil 0,02 persen dan bobot 3,62 persen. Ini lantaran kenaikan tarif pasca 1.300 VA, terjadi di 80 kota IHK.

11. emas, kenaikan harga 1,52 persen dengan andil 0,02 persen dan bobot 1,26 persen. Ini lantaran mengikuti harga emas internasional, terjadi di 69 kota IHK, tertinggi di Pangka Pinang 10 persen dan Makassar 5 persen.

12. Tarif angkutan antara kota, kenaikan 2,87 persen dengan andil 0,02 persen dan bobot 4,47 persen. Kenaikan ini jelang libur hari raya, yang terjadi di 24 kota IHK antara lain Bandung, Tangerang 10 persen, Medan dan Banjarmasin 8 persen.

Sementara pendorong deflasi, meliputi

1. Bawang merah, perubahan harganya sampai 10,19 persen. Andil deflasi 0,04 persen. Karena pasokan sudah banyak di sentra produksi di 78 kota, tertinggi di Pare-Pare 30 persen dan Madiun 28 persen.

2. Tomat sayur dan tomat , masing-masing 0,01 persen. [yud]

Topik berita Terkait:
  1. Inflasi
  2. BPS
  3. Ekonomi Indonesia
  4. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini