Indonesia paling rentan terdampak perubahan iklim dunia, ini kerugiannya

Selasa, 16 Januari 2018 15:03 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Indonesia paling rentan terdampak perubahan iklim dunia, ini kerugiannya Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. ©Kementerian PPN/Bappenas

Merdeka.com - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan negara tropis terancam terkena dampak terparah dari aktivitas perubahan iklim. Dampak negatif dari perubahan iklim dapat dirasakan baik secara fisik, lingkungan, maupun secara sosial dan ekonomi.

"Peningkatan suhu menyebabkan terjadinya perubahan iklim di berbagai belahan bumi. Kawasan-kawasan tropis di dunia, termasuk Indonesia, diperkirakan akan menghadapi dampak yang lebih parah dibandingkan dengan kawasan lainnya di dunia," kata Menteri Bambang dalam acara Festival Iklim 2018, di Lingkungan Kementerian KLHK, Selasa (16/1).

Berdasarkan laporan akhir dari IPCC Assessment Report 5 (AR5) dengan beberapa skenario perubahan iklim Representative Concentration Pathways (RCP), dalam kurun waktu satu abad terakhir suhu bumi telah meningkat sekitar 0,8 derajat celcius.

RCP memperkirakan bahwa pada tahun 2100 suhu bumi akan terus meningkat sekitar 1,8 hingga 4 derajat celcius jika dibandingkan rata-rata suhu pada 1980-1999, atau setara dengan kenaikan 2,5 hingga 4,7 derajat celcius apabila dibandingkan dengan periode pra industri.

Indonesia, lanjutnya, sebagai negara tropis dan kepulauan terbesar di dunia, merupakan salah satu negara yang paling rentan terhadap dampak negatif perubahan iklim. Dampak negatif antara lain fenomena iklim yang ekstrem, seperti semakin panjangnya bulan kering dan basah, kenaikan temperatur permukaan laut, perubahan pola dan intensitas curah hujan, dan meningkatnya bencana hidrometeorologi, akan berdampak secara luas terhadap aspek kehidupan masyarakat dan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit pada sektor ekonomi, dan juga target pembangunan lainnya, seperti ketahanan pangan, pembangunan bidang kesehatan, infrastruktur, dan ekosistem.

"Pemerintah telah melakukan berbagai upaya pencegahan dan pengurangan dampak negatif perubahan iklim di berbagai sektor. Pada sektor kehutanan dan lahan gambut, pemerintah antara lain melakukan upaya rehabilitasi hutan dan lahan, penghijauan lahan kritis, pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan gambut, dan pembangunan hutan kota," ujarnya.

Sementara itu, untuk bidang energi dan transportasi, pemerintah antara lain melakukan upaya pengembangan energi baru terbarukan, pengurangan penggunaan bahan bakar fosil, penggunaan lampu penerangan jalanan yang ramah lingkungan, pengembangan dan pengelolaan transportasi masal berkelanjutan.

"Di bidang pertanian, beberapa contoh upaya pemerintah yaitu meningkat budidaya pertanian yang ramah lingkungan, pembukaan lahan tanpa bakar, pemanfaatan pupuk organik dan bio-pestisida, serta pengembangan biogas/biofuel dari limbah peternakan dan kotoran ternak."

Sementara itu, terkait dengan bidang industri dan pengelolaan limbah, pemerintah antara lain berupaya untuk mengembangkan dan menerapkan teknologi hijau, penghapusan bahan perusak ozon, penerapan program 3R (Reduce, Reuse, Recycle), pengembangan bank sampah, dan pengolahan IPAL terpadu.

"Di samping upaya penurunan emisi, pemerintah juga concern dengan peningkatan ketahanan masyarakat terhadap dampak dari perubahan iklim. Dalam hal upaya adaptasi, Indonesia telah menyusun Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim (RAN-API) dengan penekanan pada upaya adaptasi di 15 wilayah percontohan. Melalui kegiatan RAN-API, diharapkan terwujudnya proses sinergi, komunikasi, dan koordinasi antar pihak, sehingga upaya adaptasi yang baik dan terintegrasi antar sektor dan wilayah dapat tercapai."

Menteri Bambang menegaskan, upaya penanganan perubahan iklim bukanlah tanggung jawab dari pemerintah semata. Peran aktif dari pihak dunia usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil, mitra pembangunan,dan seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan agar upaya penanganan perubahan iklim dapat tercapai secara efektif.

"Saya mengimbau agar masyarakat mendukung upaya pemerintah dalam menangani perubahan iklim, melalui aksi nyata yang dapat mengurangi dampak negatif perubahan iklim, dengan melakukan aksi ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari."

Perilaku tersebut diantaranya seperti mengurangi penggunaan listrik dengan mematikan barang elektronik yang tidak diperlukan, beralih dari penggunaan kendaraan pribadi ke transportasi publik, menggunakan produk-produk yang lebih ramah lingkungan, menekan pola konsumsi yang berlebihan dan mengurangi produksi sampah dengan menerapkan prinsip 3R, serta tindakan-tindakan lain yang sekiranya dapat memberikan dampak langsung terhadap perbaikan kualitas lingkungan dan penurunan emisi gas rumah kaca.

[bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini