Indonesia Harus Waspadai Risiko Krisis Ekonomi di Negara Maju Pada 2020

Senin, 4 November 2019 14:09 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Indonesia Harus Waspadai Risiko Krisis Ekonomi di Negara Maju Pada 2020 krisis ekonomi. shutterstock

Merdeka.com - Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI) menilai perekonomian global dan perdagangan akan melanjutkan perlamabatannya di tahun 2020. Hal ini diperparah dengan adanya risiko krisis di beberapa negara.

Kepala Kajian Makro LPEM UI, Febrio Kacaribu menyebutkan tren perlambatan global untuk perdagangan dan pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) akan berlanjut.

"Dengan tambahan risiko terjadinya krisis di negara maju pada tahun 2020," kata dia dalam acara Indonesia Economic Outlook 2020 di UI Salemba, Jakarta, Senin (4/11).

Salah satu negara maju yang berpotensi krisis adalah di Amerika Serikat (AS) yang akan terjadi tahun depan. Pemerintah diminta untuk mengantisipasi hal tersebut.

"Secara ekspektasi negara maju AS dan Eropa memang sedang mengalami ekspektasi yang negatif. Kenapa? karena PDB mereka sudah lebih 40 persen PDB dunia," ujarnya.

Apa yang terjadi pada negara maju akan berdampak ke negara berkembang termasuk Indonesia. Terutama sektor modal atau investasi.

Sebelumnya, Febrio Nathan Kacaribu mengungkapkan adanya potensi krisis moneter di Amerika Serikat (AS) yang akan terjadi tahun depan. Pemerintah diminta untuk mengantisipasi hal tersebut.

"Krisis ada ancaman di 2020 tapi lebih besar nanti di 2021," kata dia dalam acara Economy Outlook 2020, di Menara BCA, Jakarta, Jumat (18/10).

Krisis yang terjadi di AS, dampak yang akan terjadi di Indonesia biasanya adalah setahun kemudian. Oleh karena itu dia menyebut pemerintah masih punya waktu cukup banyak untuk melakukan berbagai antisipasi. "Kalau antisipasi, kita masih punya banyak waktu," ujarnya.

Antisipasi tersebut, salah satunya adalah di sektor kebijakan fiskal, moneter dan riil. "Yang penting menteri keuangan profesional. Karena kalau kita baca surat utang 40 persennya dipegang asing. Itu risiko capital outflow (aliran dana keluar)," tutupnya. [idr]

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini