Indonesia Getol Garap Biodiesel, Tengok Kerugian Akibat Penurunan Ekspor CPO

Rabu, 18 November 2020 18:38 Reporter : Merdeka
Indonesia Getol Garap Biodiesel, Tengok Kerugian Akibat Penurunan Ekspor CPO Uji Coba Penggunaan Bahan Bakar B30. ©2019 Merdeka.com/Iqbal S Nugroho

Merdeka.com - Pemerintah tengah menggenjot program biodiesel sebagai bahan bakar alternatif. Pemerintah beralasan, produksi biodiesel adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil.

Kepala Kajian Ekonomi Lingkungan LPEM FEB Universitas Indonesia, Alin Halimatussadiah, mengatakan kebijakan biodiesel memang dapat meningkatkan penghematan solar. Di mana, semakin tinggi blending rate-nya, maka penghematan itu semakin besar.

Namun, meskipun terjadi penghematan, sumbangan pada penurunan defisit neraca perdagangan berkisar antara 0,43 hingga 0,68 persen per tahun. "Sedangkan proporsi penghematan terhadap defisit neraca transaksi berjalan berkisar antara 0,09 - 0,18 persen per tahun," jelas Alin dalam diskusi daring - Kebijakan Biodiesel Untuk Siapa, Rabu (18/11).

Sementara, apabila tambahan CPO untuk produksi biodisel dapat diekspor, maka manfaat penurunan defisit makin besar. Dalam perhitungannya, Alin menyebutkan potensi pasar CPO internasional untuk ekspor masih cukup besar.

Dalam kesempatan yang sama, ekonom senior Faisal Basri menyebutkan pendapatan ekspor yang hilang dari pemakaian biodisel untuk kebutuhan domestik adalah Rp41,7 triliun pada 2019.

"Dengan menghitung opportunity cost yang hilang akibat tidak mengekspor CPO dan biofuel, transaksi perdagangan pada 2019 mengalami defisit sebesar Rp85,2 triliun (USD 6,1 miliar), dan tahun 2018 sebesar Rp72,1 triliun (USD 5,0 miliar)," papar dia.

Baca Selanjutnya: Kementan Berhasil Kembangkan Bahan Bakar...

Halaman

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini