Indef sebut kenaikan suku bunga BI tak ampuh dongkrak Rupiah, ini sebabnya

Selasa, 7 Agustus 2018 14:47 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
Indef sebut kenaikan suku bunga BI tak ampuh dongkrak Rupiah, ini sebabnya Enny Sri Hartati. ©2017 merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) belum efektif mendongkrak kembali Rupiah yang melemah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).

Direktur Indef, Enny Sri Hartati menyebutkan penyebab Rupiah melemah bukan dari sektor moneter melainkan dari sektor riil. Sehingga langkah menaikkan suku bunga acuan bukan merupakan jurus utama mengembalikan posisi Rupiah yang tengah terdepresiasi.

"Kalau kita lihat tekanan neraca perdagangan 6 bulan ini 4 bulan defisit, 2 bulan surplus. Sampai Juni masih defisit 1,1 miliar dolar AS, itu yang menjadi problem utama. Kenaikan suku bunga 50 bps sekalipun enggak nendang untuk mengerem depresiasi Rupiah," kata Enny dalam diskusi di Jakarta, Selasa (7/8).

Enny menjelaskan, Rupiah juga melemah bukan karena Dolar yang menguat seperti yang selama ini selalu digadang-gadang oleh pemerintah dan BI. "Karena secara logika, kalau semua negara ini Dolar menguat di mana-mana, terus Amerika mau dagang sama siapa? Enggak mungkin juga gitu kan," ujarnya.

Kendati demikian, Enny menjelaskan bahwa beberapa kebijakan di AS memang memengaruhi nilai tukar mata uang di beberapa negara. Namun, pelemahan di masing-masing negara relatif, bergantung dengan kesiapan yang dilakukan negara tersebut.

"Artinya memang ada dampak dari normalisasi dari kebijakan AS. Tetapi ketika negara-negara ini sudah well prepare untuk mengantisipasi, gak semuanya juga (melemah)," ujarnya.

"Ini juga datanya dari BI, kita coba cek bersama apakah yang selama ini wajar ada pelemahan Rupiah karena bukan rupiahnya yang melemah tapi penguatan dollar. Kita cek, apakah dolar seperkasa itu? enggak. Ini semua kita lihat ini kan perubahan dari 2017 ke 2018 itu tidak ada di negara-negara yang kita cantumkan ini tidak ada yang dolarnya menguat," sambungnya.

Enny mengungkapkan, Indonesia dan Filipina menjadi negara yang nilai tukar mata uangnya melemah terhadap Dolar dibanding negara lain di Asia. Artinya, dolar positif menguat di Indonesia dan Filiphina dengan presentasi cukup besar yaitu 3,81 persen dan 2,32 persen.

"Negara-negara seperti Malaysia, Singapura itu cuma 2 persen, kalau China bahkan 1 persen. Jepang tidak termasuk Dolar menguat. Tetapi Indonesia ini 3,81 persen dan Filipina 2,32 persen. Keperkasaan Dolar hanya terjadi di Filiphina dan Indonesia karena keduanya terjadi defisit neraca perdagangan. Persoalannya memang bukan di moneter, tapi di sektor riil," tandasnya. [azz]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini