Indef Sebut Kelas Menengah di Indonesia Masih Ketergantungan Impor

Kamis, 6 Februari 2020 13:41 Reporter : Sulaeman
Indef Sebut Kelas Menengah di Indonesia Masih Ketergantungan Impor Pertumbuhan ekonomi Indonesia. ©2019 Liputan6.com/Herman Zakharia

Merdeka.com - Ekonom dari Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Abdul Manan mengatakan, pemerintah seharusnya jangan terlalu bangga dengan meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia. Sebab, kebanyakan kelas menengah masih ketergantungan impor.

"Jangan bangga dulu. Kelas menengah yang tumbuh masih baru, mereka hanya kuat di sisi konsumsi, bukan produksi. Sehingga menjadi pasar impor," kata Abdul di Jakarta, Kamis (6/2).

Tercatat, kelas menengah Indonesia mengalami kenaikan, pada 2012 terdapat 74 juta dan meningkat pada 2020 yang mencapai 141 juta. Kelas menengah sendiri diukur lewat penghasilan pada USD 2-20 per kapita per hari. Dengan rincian kelompok menengah Poor middle (pengeluaran di bawah Rp1 juta per bulan), middle (pengeluaran antara Rp2-3 juta per bulan), upper middle (pengeluaran antara Rp3-5 juta per bulan), affluent (antara Rp5-7,5 juta per bulan), dan elite (lebih dari Rp5-6 juta per bulan).

Dia pun mengkhawatirkan bonus demografi Indonesia menuju masa kedaluwarsa (aging society) pada 2045, di mana lonjakan lansia mencapai 63,31 juta jiwa.

"Sedangkan kelompok menengah yang terdapat di Indonesia di dominasi kelas menengah paling bawah, boleh bangga tetapi kelas menengah ini masih baru sehingga sensitif akan kenaikan harga," katanya.

1 dari 1 halaman

RI Jadi Negara Maju 19 Tahun Lagi

Bambang Brodjonegoro yang dulu menjabat sebagai Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mengungkapkan Indonesia akan mampu menjelma menjadi negara maju pada 2038 mendatang. Hal itu ditandai dengan meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia di tahun tersebut.

"Apa sih ciri negara maju? Ciri negara maju tuh sebenarnya simpel, penduduknya didominasi oleh kelas menengah. 2038 jadi negara maju. Jadi kalau dihitung dari sekarang, 19 tahun lagi," kata Menteri Bambang dalam paparan Visi Indonesia 2045, di Four Season Hotel, Jakarta, Senin (22/4).

Dia menjelaskan ke depannya low income atau kelas pendapatan rendah jumlahnya semakin lama akan semakin sedikit dan digantikan oleh middle income atau kelas menengah. "Jadi kita melihat kesini sudah jelas Indonesia sudah in the right position, kita kebetulan berada di tempat yang benar," ujarnya.

Dia mengungkapkan, proyeksi jumlah middle income di Indonesia pada 2021 adalah 45 juta penduduk. Kemudian tahun depannya lagi akan naik dua kali lipat menjadi 85 juta penduduk yang artinya banyak masyarakat yang mengalami peningkatan daya beli.

"Kemudian tahun 2030 naik lagi jadi 145 juta, tahun 2040 187 juta dan tahun 2045 223 juta. Padahal penduduk kita pada waktu 2045 itu sekitar 320 juta, berarti yang bukan kelas menengah 100 juta."

"Jadi artinya yang dominan di penduduk Indonesia adalah kelas menengah dan itulah ciri kita sebagai negara maju," ungkapnya. [azz]

Baca juga:
Modal Bangun Infrastruktur dan SDM, RI Bebas Jebakan Kelas Menengah 2036
Presiden Jokowi Bongkar Syarat Indonesia Keluar dari Jebakan Kelas Menengah
Strategi Pemerintah Bawa Indonesia Keluar dari Jebakan Kelas Menengah
Bos Bukalapak Bertekad Tangkal Rakyat Terjebak dalam Middle Income Trap
Hindari Jebakan Kelas Menengah, Menkeu Ungkap Peningkatan Kualitas SDM Jadi Kunci
Bappenas: 19 Tahun Lagi Indonesia Jadi Negara Maju

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini