Impor bahan mie instan tinggi, gandum 'nuklir' bisa jadi pilihan

Jumat, 19 September 2014 15:10 Reporter : Ardyan Mohamad
Impor bahan mie instan tinggi, gandum 'nuklir' bisa jadi pilihan Ilustrasi gandum. ©Shutterstock/Elena Schweitzer

Merdeka.com - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengaku punya solusi buat mengurangi ketergantungan pemerintah pada komoditas gandum impor. Bahan baku tepung terigu dan mi instan yang banyak dikonsumsi di Tanah Air.

Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kadin Utama Kajo bercerita program kemitraan dengan petani di Malino, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, sukses menghasilkan gandum berkualitas tidak kalah dari produk impor.

Varietas gandum itu bisa bertahan di iklim Indonesia karena sebelumnya dimutasi dengan sinar gamma, hasil teknologi badan Tenaga Nuklir Indonesia (BATAN). "Tiga minggu lalu saya berhasil panen gandum Indonesia. Itu tujuh hektar hasil menanam selama tiga bulan. Ini gandum hasil mutasi dan sudah disesuaikan dengan iklim Indonesia," ujarnya di Jakarta, Jumat (19/9).

Data Kementerian Perdagangan, impor bahan pangan tertinggi sepanjang 2013 adalah gandum, mencapai 6,3 juta ton senilai USD 2,3 miliar. Australia jadi pemasok gandum terbesar buat Indonesia, mencapai 4,4 juta ton, disusul Kanada (930.600 ton), India (107.500 ton), dan Ukraina (30.500 ton).

Indonesia bergantung pada pasokan gandum asing, karena tanaman itu diyakini sulit bertahan pada iklim tropis. Celakanya, konsumsi pangan berbahan gandum oleh masyarakat kini berada di posisi kedua setelah beras.

Kajo mengatakan, kendati sukses membuktikan bahwa Indonesia bisa menanam gandum sendiri, varietas hasil rekayasa nuklir itu belum mampu diproduksi massal. Tanpa sokongan pemerintah, perusahaan belum akan bersedia menyerap produksi gandum dalam negeri karena kebutuhan amat besar.

"Dari penelitian kita, lahan yang laik untuk gandum di Indonesia itu sebanyak 3.000 hektar. produksinya baru 12 ton. Itu mesin PT Bogasari sekali putar dalam sehari ya cuma ngotor-ngotori gigi rodanya," kata Kajo.

Temuan Kadin, bersama BATAN, Balai Besar Cerelia Maros, dan Biotrop Bogor, kalau pemerintah ingin mulai membudidayakan gandum, maka harus ada pembukaan lahan baru di luar Pulau Jawa. Ini juga sejalan dengan visi-misi Presiden Terpilih Joko Widodo.

"Lahan untuk gandum baiknya di luar Jawa, tapi intinya kita mampu kok. Ini gandum Malino enggak kalah dari Australia. Bikin jalan tol aja sanggup," cetusnya.

Kajo memastikan gandum yang diujicoba di Malino aman dikonsumsi masyarakat. "Ini dimutasi bibitnya dengan radiasi gamma, tidak ada kaitannya dengan nuklir, jadi amanlah."

Pada 1999, sudah ada upaya memperkenalkan varietas gandum tropis, bekerja sama dengan India. Uji coba dilakukan di Jawa Tengah, tepatnya di Tawangmangu dan Kopeng. Masalahnya tanaman itu rentan diserang ulat dan kutu daun, sehingga produktivitasnya tidak maksimal. Sementara industri butuh gandum cepat.

PT Indofood Sukses Makmur, produsen mi instan terbesar di Tanah Air misalnya, menyerap 300.000 ton gandum impor saban bulan untuk memenuhi permintaan pasar. Perseroan beberapa kali mengatakan membuka lahan gandum sendiri kurang ekonomis dibanding membeli dari luar negeri. [arr]

Topik berita Terkait:
  1. Ekspor Impor
  2. KADIN
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini