Imbas Perang Dagang, Ekonomi Asia Diprediksi Melambat di 2019

Kamis, 4 April 2019 16:05 Reporter : Merdeka
Imbas Perang Dagang, Ekonomi Asia Diprediksi Melambat di 2019 perang dagang. ©2018 liputan6.com

Merdeka.com - Asian Development Bank (ADB) prediksi pertumbuhan ekonomi Asia melambat pada 2019, kemudian kehilangan momentum pada 2020. Hal ini karena risiko ekonomi meningkat seiring perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China serta ketidakpastian Brexit.

ADB prediksi ekonomi Asia tumbuh 5,7 persen pada 2019. Pertumbuhan ekonomi itu melambat dari proyeksi 5,9 persen pada 2018 dan pertumbuhan 6,2 persen pada 2017.

Perkiraan 2019 itu mewakili sedikit penurunan dari perkiraan Desember sebesar 5,8 persen. Pada 2020, ekonomi Asia diperkirakan tumbuh 5,6 persen. Pertumbuhan ekonomi itu paling lambat sejak 2001.

"Perang dagang yang terjadi antara China dan AS dapat merusak investasi dan pertumbuhan di negara berkembang Asia," ujar Ekonom ADB, Yasuyuki Sawada, seperti dikutip dari laman the Australian.com, Kamis (4/4).

ADB juga melihat ketidakpastian yang berasal dari kebijakan fiskal AS dan Brexit sebagai risiko ke depan. Sentimen itu dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi negara maju dan prospek ekonomi China.

"Meski pun kenaikan tiba-tiba dalam suku bunga AS tampaknya telah berhenti untuk saat ini. Namun pembuat kebijakan harus tetap waspada di masa yang tidak pasti ini," ujar Sawada.

ADB juga proyeksikan, ekonomi China akan tumbuh 6,3 persen pada 2019. Proyeksi itu tidak berubah dari proyeksi Desember. Akan tetapi, ekonomi China lebih lambat dari ekspansi negara itu 6,6 persen pada 2018. Kemudian ekonomi China akan tumbuh 6,1 persen pada 2020.

Ekonomi China akan didukung dari pemangkasan pajak dan peningkatan pengeluaran negara untuk infrastruktur. Di luar risiko perdagangan, ADB mengatakan, pertumbuhan China juga dibayangi pembatasan shadow banking, yang diperkirakan membatasi ekspansi kredit.

"Saya harus menekankan walaupun pemerintah ingin menstabilkan pertumbuhan, pemerintah tidak ingin menaikkan tingkat pertumbuhan seperti tahun-tahun sebelumnya ketika Anda melihat paket stimulus besar, seperti pada periode 2008-2009," ujar Ekonom Senior ADB, Jian Zhuang.

Bank-bank China dinilai mungkin masih tetap enggan untuk menurunkan biaya pinjaman bagi sebagian perusahaan. Ini karena kekhawatiran akan meningkatnya risiko gagal bayar korporasi seiring ekonomi yang melambat.

"Bank sentral dapat mengambil tindakan lebih lanjut, seperti memangkas suku bunga pinjaman satu tahun dan suku bunga deposit," tulis ADB.

Berdasarkan wilayah, ekonomi Asia Selatan akan tetap tumbuh tercepat di Asia Pasifik, diperkirakan tumbuh 6,8 persen pada 2019. Angka ini lebih rendah dari perkiraan sebelumnya 7,1 persen. Kemudian proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2020 sebesar 6,9 persen.

Dari perkiraan pertumbuhan 7 persen pada 2018, ekonomi India diproyeksikan tumbuh lebih cepat yaitu sebesar 7,2 persen pada 2019 dan 7,3 persen pada 2020. Ini karena suku bunga lebih rendah dan dukungan terhadap petani seiring meningkatnya permintaan domestik.

Sedangkan pertumbuhan di Asia Tenggara pada 2019 dipangkas menjadi 4,9 persen pada 2019 dari perkiraan sebelumnya 5,1 persen. Ini karena ADB melihat Malaysia, Filipina, dan Thailand tumbuh melambat dari yang diperkirakan sebelumnya. Ekonomi Asia Tenggara diperkirakan tumbuh lima persen pada 2020.

Selain itu, harga komoditas yang stabil, ADB turunkan perkiraan rata-rata inflasi untuk negara berkembang di Asia menjadi 2,5 persen pada 2019 dari perkiraan sebelumnya 2,7 persen. Kemudian pada 2020 diproyeksikan 2,5 persen.

Reporter: Agustina Melani

Sumber: Liputan6.com [azz]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini