Imbas Pandemi, BTN Catat Rumah Tapak Kini Lebih Diminati Dibanding Apartemen

Selasa, 16 Maret 2021 13:36 Reporter : Merdeka
Imbas Pandemi, BTN Catat Rumah Tapak Kini Lebih Diminati Dibanding Apartemen perumahan. ©2012 Merdeka.com/sapto anggoro

Merdeka.com - Penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mengakibatkan ketidakpastian bagi dunia usaha, tidak terkecuali industri properti. Selain itu, dampak pandemi Covid-19 juga mempengaruhi adanya perubahan perilaku konsumen.

"Beberapa perubahan perilaku yang kami bisa simak, ternyata peminat konsumen tidak lagi ke apartemen tetapi cenderung ke landed," kata Executive Vice President, Nonsubsidized Mortgage & Consumer Division Bank BTN, Suryanti Agustinar, dalam Media Briefing Virtual Rumah.com: Satu Tahun Pandemi, Selasa (16/3).

Suryanti menyebut, peralihan ini ditandai dengan peningkatan penjualan di kategori rumah tapak dan penurunan penjualan kategori apartemen. Selain itu, ketertarikan konsumen untuk memiliki hunian di perumahan yang terintegrasi dengan berbagai fasilitas penunjang, seperti transportasi umum KRL, LRT, Busway, jalan tol, sekolah dan pusat perbelanjaan.

"Sekarang konsumen cenderung lebih senang memiliki rumah tidak mesti di Jakarta dan tidak harus dalam kota karena bisa WFH, yang penting transportasinya terjangkau. Jarak tidak menjadi hambatan mereka," katanya.

Bahkan, saat ini, rumah-rumah tapak yang memang lokasinya jauh justru banyak peminatnya. Kata Suryanti, banyak konsumen yang tertarik mengambil KPR di lokasi-lokasi rumah pinggiran dengan harga sekitar Rp 500-800 juta saja.

2 dari 2 halaman

Preferensi Lain Konsumen

konsumen

Di sisi lain, konsumen semakin sadar terhadap kesehatan dan lingkungan hidup yang bersih. Konsumen menginginkan fasilitas seperti jogging track, dan jalur sepeda untuk berolahraga maupun taman untuk melakukan aktivitas di luar ruangan.

"Kami lihat sekarang consumer semakin peduli terhadap kesehatan dan lingkungan hidup, mereka rata-rata mencari developer yang mempunyai konsep perumahan yang sehat, ada ruang untuk bekerja dan fasilitas lainnya lengkap. Jadi developer yang punya tempat olahraga menjadi pilihan mereka," ungkapnya.

Oleh karena itu, developer harus memperhatikan perubahan tren konsumen. Agar kebutuhan konsumen bisa terpenuhi di masa pandemi covid-19. Dengan mengikuti tren tersebut, maka secara langsung sektor penjualan perumahan juga akan meningkat.

"Sebagai masukan, developer harus memperhatikan hal ini bahwa konsumen memilih rumah tidak hanya sekedar lokasi, tapi konsep-konsep kesehatan itu menjadi pilihan bagi para konsumen. Terutama bagi milenial, ternyata milenial itu sangat konsen dengan hidup sehat," ujar Suryanti.

Dampak pandemi covid-19 ini, lanjutnya, juga membuat konsumen beralih ke teknologi digital dalam kehidupan sehari-harinya termasuk dalam mencari hunian rumah.

Migrasi konsumen ke teknologi digital ditandai dengan peningkatan pengunjung virtual expo yang diadakan oleh bank BTN, baik untuk melihat-lihat rumah maupun untuk pengajuan aplikasi pembelian rumah.

"Sekarang mereka (konsumen) tidak mau susah-susah mengajukan ke perbankan, makannya kami mengalami peningkatan melalui aplikasi online. Kemudian pemilihan lokasi juga semua online di portal kami, kerjasama dengan beberapa developer besar pun tidak lagi mengunjungi lokasi melainkan secara virtual," pungkasnya.

Reporter: Tira Santia

Sumber: Liputan6

[bim]

Baca juga:
Inovasi PUPR Mudahkan Masyarakat Miliki Rumah Impian
Mayoritas Masyarakat Cari Rumah dengan Harga di bawah Rp750 Juta
PUPR: Setiap Tahun Ada 800 Keluarga Baru Membutuhkan Rumah
Pandemi Covid-19 Tingkatkan Kesadaran Masyarakat Punya Rumah
BTN Syariah Bidik Pembiayaan Perumahan di Kota Sekitar Jakarta
Alasan Menteri Sri Mulyani Izinkan Pembebasan Pajak Pembelian Rumah dan Apartemen
Akhir Sengketa Lahan Warga Bekasi dengan Pihak Pengembang, Kini Sepakat Berdamai

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini