KAPANLAGI NETWORK
MORE
  • FIND US ON

Ikut program WMM, keluarga ini antar jengkol hingga ke mancanegara

Kamis, 9 Maret 2017 14:53 Reporter : Yayu Agustini Rahayu
WMM Expo di Botani Square. ©2017 merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu

Merdeka.com - Jengkol adalah bahan makanan yang diminati oleh sebagian kalangan masyarakat. Namun tak sedikit juga yang tidak suka jengkol. Teksturnya serta aromanya yang bau bahkan membuat jengkol dijauhi oleh sebagian orang. Selama ini, jengkol diolah dengan cara tradisional dan makanan ini mempunyai penggemar tersendiri.

Siapa sangka, jengkol ternyata bisa diolah menjadi rendang, bahkan proses pembuatan dan pengolahannya pun menggunakan cara yang lebih modern serta dikemas dalam bentuk makanan instan siap saji.

Adalah kakak beradik, Kingkin, Nova Aditya dan Bimbi berhasil bereksperimen dengan jengkol dan bahkan kini hasil olahan mereka bisa dinikmati masyarakat luar negeri melalui usaha mereka yang bernama Mangano.

Keluarga yang berasal dari Jawa Timur dan merintis usahanya sejak awal tahun 2014 ini kini semakin berkembang sejak mereka mengikuti program Wirausaha Muda Mandiri (WMM). Kingkin menjelaskan asal mula terciptanya rendang jengkol adalah atas permintaan pelanggannya yang merupakan warga Indonesia yang berdomisili di Korea.

"Jengkol kan unik, kita sebetulnya produksi rendang jengkol tanpa sengaja. Saat itu ada buyer (pembeli) dari Korea disana banyak orang Indonesia yang kerja disana itu makan jengkol dan ternyata rendang jengkol lumayan diminati," kata Kingkin, dalam acara WMM Expo, di Botani Square, Kamis (9/3).

WMM Expo di Botani Square ©2017 merdeka.com/Yayu Agustini Rahayu




Mereka tidak menyangka pada akhirnya jengkol diterima dengan baik oleh konsumen. "Ternyata jengkol luar biasa waktu di expo luar biasa laris," ujar Kingkin.

Akhirnya, Kingkin dan adik-adiknya memutuskan untuk memasukkan rendang jengkol dalam menu mereka, bahkan kini jengkol menjadi primadona di Mangano.

Olahan mereka yang merupakan makanan instan ini mengusung konsep makanan instan yang sehat. Tanpa menggunakan MSG, makanan olahan mereka bisa tahan sampai 12 bulan karena diolah melalui proses sterilisasi. Cara menyantapnya pun cukup mudah, hanya butuh dipanaskan dan bisa langsung dimakan.

Kingkin mengungkapkan, pada awalnya mereka agak kesulitan memasarkan produk mereka karena masih terbatasnya jangkauan pemasaran. Namun, berkat progam WMM, kini ruang lingkup pemasaran mereka semakin luas. Bahkan, di tahun pertama mereka mengikuti gelaran WMM Expo pada tahun 2015 mereka langsung keluar sebagai juara pertama kategori boga.

"Berkat program WMM kita terbantu. Branding kita jadi bisa lebih dikenal banyak orang," terang Kingkin.

WMM Expo di Botani Square ©2017 merdeka.com/Yayu Agustini RahayuKini, selain di dalam negeri produk buatan mereka sudah menjangkau mancanegara seperti Jepang, Korea, Australia san Jerman. "Yang beli biasanya buat oleh-oleh," kata Kingkin.


Bahkan, di Jakarta ada reseller khusus yang menjual untuk warga Jepang yang tinggal di Indonesia. Umumnya, mereka tertarik karena konsep makanan sehat yang ditawarkan yaitu non MSG.

Melalui usahanya tersebut, kini Kingkin dan keluarganya bisa mengantongi untung minimal Rp. 15.000.000 per bulannya.

Selain rendang jengkol, mereka juga menjual semur daging, opor ayam, kari ayam dan rendang sapi. [war]

Rekomendasi Pilihan

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.