Ikan Sidat Langka, Menteri Susi Dorong Rakyat Perangi Penyelundup Benih

Rabu, 9 Oktober 2019 16:36 Reporter : Wilfridus Setu Embu
Ikan Sidat Langka, Menteri Susi Dorong Rakyat Perangi Penyelundup Benih Menteri Susi Pudjiastuti. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, menegaskan penyelundupan benih mengancam keberlangsungan sektor perikanan dan kelautan. Tak hanya itu. Masyarakat juga terancam kehilangan jenis ikan yang bergizi.

Sebagai contoh, Menteri Susi menyebut ikan sidat. Menurut dia, akhir-akhir ini ikan yang termasuk ke dalam famili Anguillidae tersebut makin sulit ditemukan. "Ikan sidat dulu kita bisa makan di warung. 15 tahun terakhir tidak bisa lagi. Langka. Tahu-tahu sudah masuk dalam sites. Karena dalam 15 tahun terakhir dilakukan penangkapan bibit-bibitnya," kata dia, di Gedung Mina Bahari, Jakarta, Rabu (9/10).

"Yang tersisa sekarang di kita cuma belut saja. Belut itu kurang omeganya. Lebih baik ikan sidat. Nanti orang Indonesia makan yang tidak berkualitas. Padahal itu hak rakyat kita," imbuh dia.

Dia mengatakan, pelarangan komersialisasi benih ikan sudah diterapkan sejak lama. Sayangnya, selalu diterabas oleh para penyelundup. "Peraturan Menteri sudah ada. Tapi tetap diselundupkan. Kebanyakan pergerakan sidat antar daerah itu masuknya ke Batam. Dari Batam ke Singapura. Singapura yang jadi broker, penjual, makelar," ungkap Menteri Susi.

Ancaman hukuman tegas bagi penyelundup plasma nutfah yang menanti pun tak membuat jeri para penyelundup. "Di dunia itu hukuman plasma Nutfah, pencurian, pengambilan secara ilegal bukan untuk kepentingan pendidikan minimal 20 tahun. Itu negara yang sangat keras demokrasinya, HAM-nya kencang, paling tidak diganjar 20 tahun, rata-rata seumur hidup," tegas dia.

Karena itu upaya memberantas penyelundupan benih komoditas perikanan dan kelautan Indonesia harus terus dilancarkan. "Kita barangkali harus belajar untuk lebih menghargai dan lebih melindungi plasma Nutfah kita. Tidak lucu kalau suatu hari kita harus beli tongkol dari negara lain, atau kakap merah, dari negara lain. Kerapu juga sama," tandasnya. [bim]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini