Hari Ini, Rupiah Bergerak Melemah ke Rp13.910 per USD

Jumat, 3 Januari 2020 10:30 Reporter : Siti Nur Azzura
Hari Ini, Rupiah Bergerak Melemah ke Rp13.910 per USD Rupiah. ©2013 Merdeka.com

Merdeka.com - Nilai tukar (kurs) Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah hari ini, Jumat (3/1). Rupiah dibuka menguat tipis di Rp13.885 per USD dari perdagangan sebelumnya di Rp13.893 per USD.

Mengutip data Bloomberg, Rupiah sempat menguat lagi usai pembukaan ke Rp13.883 per USD. Namun Rupiah bergerak melemah dan saat ini berada di Rp13.910 per USD.

Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, nilai tukar Rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir pekan berpeluang kembali menguat setelah terkoreksi di perdagangan awal tahun.

"Hari ini rupiah kemungkinan akan kembali menguat," kata Ibrahim dikutip Antara.

Dari eksternal, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyatakan akan menandatangani kesepakatan perdagangan fase pertama dengan China pada 15 Januari 2020. Trump menyatakan seremoni penandatanganan kesepakatan tersebut akan dilakukan di Gedung Putih.

Setelah penandatangan, Trump berencana akan melakukan kunjungan ke China untuk melanjutkan pembicaraan mengenai kesepakatan fase kedua. Kendati demikian, sejauh ini China belum memberikan konfirmasi mengenai tanggal tersebut dan belum merilis pernyataan apa pun tentang penandatanganan tersebut.

Dari domestik, inflasi secara keseluruhan pada akhir tahun 2019 tercatat 2,72 persen, lebih rendah dari 2018 yang mencapai 3,13 persen. Ibrahim memperkirakan rupiah pada hari ini akan bergerak di kisaran Rp13.863 per dolar AS hingga Rp13.910 per dolar AS.

1 dari 1 halaman

Menguat di Akhir 2019

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengatakan penguatan nilai Rupiah dalam beberapa hari terakhir merupakan hal yang wajar terjadi jelang akhir tahun. Sebab, pada akhir tahun, para eksportir cenderung menukarkan Dolar ke Rupiah seiring dengan tingginya angka permintaan ekspor.

"Kita lihatnya penguatan Rupiahnya ini di market ya, karena memang ada kebutuhan ekspor/impor akhir tahun yang tinggi. Jadi Dolar dalam ekspor masih butuh ke Rupiah karena memang akhir tahun ada ketersediaan Dolar-nya," jelas Destry di Jakarta, Jumat (27/12).

Di sisi lain, Destry menambahkan, kondisi perekonomian global saat ini sedang tidak bersahabat dengan ketidakpastian tinggi. Hal tersebut juga mempengaruhi performa ekspor kita yang masih mengalami perlambatan.

Dia pun menyebutkan, sektor eksternal seperti ekspor berpengaruh terhadap perekonomian negara sebesar 15-20 persen, dan itu akan sangat mempengaruhi stabilitas di domestik.

"Pengaruhnya lewat nilai tukar (Rupiah), currency kita. Sementara kalau bicara nilai tukar Rupiah dengan USD sangat tergantung dari supply dan permintaan Dolar," ujar dia.

"Dalam hal ini lah masuk satu keharusan bahwa kami di BI kita harus memiliki suatu data yang akurat (terkait Rupiah) sehingga bisa perkirakan berapa sebenarnya supply dan permintaan Dolar itu baik yang sekarang berlangsung ataupun kita buat prediksi," tandasnya. [azz]

Baca juga:
Presiden Jokowi: Survei Tunjukkan Indonesia Negara Paling Diminati Investor di 2020
Bank Indonesia Catat Uang Beredar per November Tumbuh 7,1 Persen
BI Sebut Penguatan Rupiah Jelang Tutup Tahun Didorong Faktor Musiman
Rupiah Menguat ke Level Rp13.972 per USD
Terhimpit Masalah Berat, Ekonomi Indonesia 2019 Mampu Bertahan Tumbuh Positif
Sempat Dibuka Menguat, Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp14.000-an per USD

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini