Harga Tiket Pesawat Diharapkan Turun Usai Dirut Garuda Indonesia Dicopot

Jumat, 6 Desember 2019 12:27 Reporter : Anggun P. Situmorang
Harga Tiket Pesawat Diharapkan Turun Usai Dirut Garuda Indonesia Dicopot pesawat. shutterstock

Merdeka.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mencopot Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Ashkara atas penyelundupan onderdil Harley Davidson klasik keluaran 1970an. Pencopotan dilakukan usai audit internal terhadap perusahaan pelat merah tersebut rampung.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani berharap, pencopotan Dirut Garuda Indonesia akan menjadi momentum untuk mendorong penurunan harga tiket. Paling tidak, nantinya harga tiket diharapkan bisa bersaing seperti di negara lain.

"Ya, kita berharap. Paling tidak menjadi kompetitif. Kalau yang kemarin terjadi itu, yang di rasakan masyarakat, memang tiket itu tidak kompetitif," ujar Hariyadi di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (6/12).

Selama ini, harga tiket di Indonesia tidak seperti negara lain. Di mana, untuk Low Cost Carrier atau pesawat berbiaya rendah biasanya mengenakan harga yang lebih bersahabat dan terjangkau oleh masyarakat.

"Dibandingkan dengan rute yang sama di ASEAN maupun Eropa sama-sama penerbangan 1 sampai 2 jam, kalau bicara LCC kita lebih mahal. Pokoknya di mana tidak ada kompetisi pasti harganya mahal. Kalau ada kompetitor, harga murah," jelasnya.

Harga tiket pesawat mahal membuat masyarakat menderita. Terutama wilayah Indonesia bagian Timur. "Tidak fair lah rakyat dirugikan. Apalagi wilayah timur sangat terganggu banget. Terjadi penurunan kunjungan traveler," tandasnya.

1 dari 1 halaman

Penyebab Harga Tiket Pesawat Mahal

Hariyadi mengatakan, industri pariwisata menyambut gembira pencopotan Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Ashkara atas kasus penyelundupan. Menurutnya, selama ini Ari menjadi salah satu penyebab harga tiket pesawat tak kunjung turun.

"Ini terus terang saya dengan adanya pergantian dirut Garuda ini, saya sebagai Ketua PHRI dari Sektor pariwisata gembira banget. Kita yang komplain paling berat karena dia 'penyebabnya', karena dia menciptakan 'palkan kartel' dia mendikte pasar," ujarnya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (8/12).

Saat menjadi pejabat Garuda Indonesia, dia menduga, ada tekanan perusahaan pelat merah tersebut terhadap agen penjualan tiket online seperti Traveloka. "Sampai Traveloka dipencet sama dia (Dirut Garuda), segala macam, tidak fair lah," jelasnya.

Ketua Apindo tersebut menambahkan, momentum ini akan menjadi titik awal Menteri BUMN Erick Thohir menyapu bersih orang-orang yang tidak bisa dipercaya membawa BUMN maju. Sebab, BUMN yang tidak bisa diandalkan tidak hanya merugikan industri tetapi juga seluruh rakyat Indonesia.

"Ini mudah-mudahan, ini titik kita membenahi semua itu. Karena ini bicara tidak hanya pariwisata, tapi konektivitas, bicara pertumbuhan ekonomi kita juga. Bayangkan bukan hanya penumpang yang kena masalah, kargo kan juga jadi mahal banget, naik tidak kira-kira. Itu kan ganggu banget," tandasnya. [azz]

Baca juga:
Industri Pariwisata Gembira Dirut Garuda Indonesia Dicopot, Kenapa?
Pasca Penyelundupan Harley Davidson, Kemenhub Beri Sanksi ke Garuda Indonesia
Direktur Keuangan Ditunjuk Jadi Pelaksana Tugas Dirut Garuda Indonesia
Selundupkan Harley Davidson, Dirut Garuda Indonesia Miliki Harta Rp37,5 Miliar
Erick Thohir Ungkap Kronologi Harley Selundupan dari Dua Surat Ini
Masalah Garuda Indonesia, Dari Laporan Keuangan Bodong hingga Penyelundupan Harley

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini