Harga Tanah di Bali Meroket

Jumat, 25 September 2009 12:21 Sumber :
Kapanlagi.com

Merdeka.com - Kapanlagi.com - Guru besar Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Prof Dr I Nengah Duija, MSi mengatakan harga tanah di Bali khususnya di daerah perkotaan, dalam beberapa tahun terakhir meroket.

"Pemilik tanah tergoda oleh tawaran harga yang sangat tinggi, sehingga cenderung menjual tanah warisannya," kata Prof Duija, guru besar bidang ilmu antropologi budaya pada Fakultas Dharma Acarya IHDN Denpasar, Jumat (25/9).

Ia mengatakan kecenderungan menjual lahan pertanian miliknya itu didasarkan atas berbagai pertimbangan. Jika tanahnya digunakan untuk bercocok tanam, hasilnya tidak seimbang dengan kerja keras dan investasi tanah yang nilainya cukup mahal.

Oleh sebab itu, dalam waktu singkat ratusan hektare sawah beralih fungsi ke non pertanian, khususnya menjadi tempat permukiman baru.

Di sekitar kawasan Uma Anyar Ubung Kaja misalnya, harga tanah sekitar Rp250 juta per 100 meter persegi (satu are), dan Jalan Cokro Aminoto mencapai Rp350 juta per are.

"Di Bali lahan beralih fungsi setiap tahunnya tidak kurang dari 1.000 hektare, dan hal itu telah terjadi sejak beberapa tahun terakhir," katanya.

Menurut dia, akibat peralihan fungsi lahan pertanian yang tidak terkendali mengakibatkan tekanan pada lingkungan berupa erosi dan abrasi pantai.

Kondisi tersebut diperparah lagi dengan pemanfaatan sumber daya yang terbatas itu tidak terkendali.

Lahan dan air sangat terbatas menjadi rebutan antar kepentingan industri pariwisata, perumahan dan pertanian.

Oleh karena itu, kata dia sumber daya tersebut hendaknya dimanfaatkan secara hemat untuk kesejahteraan masyarakat, dengan tetap menjaga kelangsungan dan kelestarian Bali ke depan. (kpl/meg)

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.