Harga minyak dunia merosot dipicu perang dagang AS - China

Kamis, 9 Agustus 2018 09:54 Reporter : Idris Rusadi Putra
Ilustrasi Migas. shutterstock.com

Merdeka.com - Harga minyak dunia jatuh sekitar 3 persen pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB). Penurunan harga ini terjadi karena sengketa perdagangan antara Amerika Serikat dan China, serta adanya perlambatan permintaan China yang ditunjukkan dana impornya.

Patokan internasional, minyak mentah Brent untuk pengiriman Oktober merosot USD 2,37 atau 3,17 persen menjadi menetap di USD 72,28 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September turun USD 2,23 atau 3,22 persen, menjadi ditutup pada USD 66,94 per barel di New York Mercantile Exchange, setelah mencapai terendah sejak 22 Juni di USD 66,32 per barel.

China menerapkan tarif tambahan sebesar 25 persen pada impor senilai USD 16 miliar atas barang-barang AS mulai dari bahan bakar dan produk baja hingga mobil dan peralatan medis. Perang dagang yang meningkat telah mengguncang pasar global. Investor khawatir perlambatan potensial dari dua ekonomi terbesar dunia itu akan memangkas permintaan untuk komoditas.

"Perang perdagangan AS-China akan memburuk, dan dampaknya terhadap harga minyak akan bertahap sesuai perkembangan situasi," kata Abhishek Kumar, analis energi senior di Interfax Energy di London.

"Minyak mentah dan produk olahan yang dipengaruhi oleh tarif tambahan yang akan mengurangi daya saing mereka di pasar China."

Selain itu, impor minyak mentah China sedikit pulih pada Juli setelah mencatat dua penurunan bulanan berturut-turut, tetapi tetap rendah karena penurunan permintaan dari kilang-kilang independen yang lebih kecil.

Pengiriman ke pengimpor minyak mentah terbesar dunia bulan lalu naik menjadi 8,48 juta barel per hari dari 8,18 juta barel per hari setahun sebelumnya dan 8,6 juta barel per hari pada Juni, menurut data pabean. Namun, impor Juli masih yang terendah ketiga sejauh tahun ini.

Juga membebani harga, laporan Badan Informasi Energi AS (EIA) bahwa persediaan minyak mentah turun hanya 1,4 juta barel dalam seminggu terakhir, kurang dari setengah yang diperkirakan para analis 3,3 juta barel.

Stok bensin mencatat kenaikan mengejutkan 2,9 juta barel, bukan penurunan 1,7 juta barel yang diprediksi para analis dalam jajak pendapat Reuters. "Peningkatan produk dominan membebani seluruh kompleks energi," kata Anthony Headrick, analis pasar energi di perusahaan pialang CHS Hedging LLC.

Harga menarik beberapa dukungan dari sanksi AS terhadap Iran, yang diberlakukan mulai Selasa (7/8) di berbagai sektor. Mulai November, Washington akan menargetkan sektor perminyakan di Iran, produsen nomor tiga di Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC).

Sebuah surat kabar Iran melaporkan bahwa Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif mengatakan rencana AS untuk mengurangi ekspor minyak Iran ke nol tidak akan berhasil. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini