Harga gas Indonesia mahal karena ulah trader tak punya pipa

Kamis, 15 September 2016 20:49 Reporter : Idris Rusadi Putra
Harga gas Indonesia mahal karena ulah trader tak punya pipa Pembangunan pipa gas PGN. ©2016 Merdeka.com

Merdeka.com - Tingginya harga gas dalam negeri menjadi salah satu penyebab lemahnya daya saing industri Indonesia. Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat mengeluhkan harga gas dalam negeri lebih mahal dibanding Singapura. Padahal, Singapura membeli gas dari Indonesia. Ade menduga, tata niaga perdagangan gas di Indonesia terlalu kompleks.

"Gas berasal dari Indonesia dijual ke Singapura dengan harga berkisar USD 4 per Million Metric British Thermal Unit (MMBTU), begitu harga gas dijual sendiri di Indonesia maka harga gas sudah USD 12, artinya di situ terjadi percaloan yang luar biasa," ucap Ade di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Senin (29/8).

Ekonom Universitas Indonesia, Faisal Basri menilai, harga jual gas bumi ke industri menjadi mahal akibat ulah pedagang (trader) yang tidak mempunyai infrastruktur pipa.

"Bertahun-tahun praktik bisnis gas tidak sehat tanpa penyelesaian. Salah satu akar masalah utama adalah bisnis gas dijadikan bancakan oleh para pemburu rente," ujarnya seperti ditulis Antara di Jakarta, Kamis (15/9).

Menurut mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Migas tersebut, pemerintah mesti segera menertibkan praktik trader tanpa fasilitas yang telah berburu rente di bisnis gas.

Faisal menegaskan, permasalahan harga gas di Indonesia disebabkan banyaknya pemburu rente gas atau trader bermodal kertas. Bahkan, dia memperkirakan terdapat 60 trader gas atau calo gas yang berbisnis tanpa memiliki infrastruktur gas bumi.

Meski demikian, Faisal mengakui, tidak semua trader sekadar calo yang semata-mata menjual gas tanpa membangun pipa dan sebatas menjual kembali ke trader lain.

"Oleh karena itu, semua pihak yang memiliki data rinci mau mengungkapkannya agar khalayak tahu mana trader profesional dan mana yang cuma sekedar calo. Mana trader yang hanya menikmati rente karena dekat dengan kekuasaan atau betul-betul ada di dalam lingkaran kekuasaan dan mana yang profesional, bermodal, dan menghadapi risiko bisnis," ujarnya.

Sebelumnya, pengguna gas di Medan, Sumatera Utara mengeluhkan harga gas yang tinggi, sehingga menurunkan daya saing dengan negara lain.

Data Kementerian ESDM mengenai struktur harga beli gas PT PGN Tbk untuk industri di Medan, Sumut menunjukkan harga gas berasal dari dua sumber pasokan yakni gas alam cair (LNG) sebesar USD 7,8 per MMBTU dan pipa USD 8,24 per MMBTU.

Selanjutnya, harga gas yang bersumber dari LNG ditambah biaya regasifikasi USD 1,5 per MMBTU, transmisi Arun-Belawan USD 2,53 per MMBTU, dan biaya trader USD 1,55 per MMBTU.

Biaya trader tersebut terdiri atas marjin USD 0,35 per MMBTU, gross heating value (GHV) losses USD 0,33, own used and boil off gas (BOG) USD 0,65, dan cost of money USD 0,75.

Sedangkan, gas yang bersumber dari pipa hanya ditambah biaya transmisi USD 0,9 per MMBTU.

Dari kedua sumber tersebut digabung dan diperoleh harga beli gas PGN rata-rata adalah USD 10,87 dolar per MMBTU.

Setelah ditambah biaya pemeliharaan, pengelolaan, dan distribusi PGN sebesar USD 1,35 per MMBTU didapat harga di tingkat pelanggan industri di Medan, Sumut adalah USD 12,22 per MMBTU. [idr]

Topik berita Terkait:
  1. PGN
  2. Migas
  3. Gas Bumi
  4. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini