Gara-Gara Freeport, Ekonomi Papua Anjlok 7,4 Persen di 2019

Rabu, 5 Februari 2020 15:43 Reporter : Anisyah Al Faqir
Gara-Gara Freeport, Ekonomi Papua Anjlok 7,4 Persen di 2019 freeport. ©2018 liputan6.com

Merdeka.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2019 sebesar 5,02 persen. Di mana pertumbuhan ekonomi di Maluku dan Papua paling rendah dibanding pulau lain, yakni menurun 7,4 persen dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 2,24 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, struktur perekonomian Indonesia secara spasial pada tahun 2019 masih didominasi oleh provinsi di Pulau Jawa yang memberikan kontribusi terhadap PDB sebesar 59 persen. Dilanjutkan Pulau Sumatera dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,57 persen, dengan kontribusi sebesar 21,32 persen.

"Sebenarnya Maluku masih tumbuh bagus, 5,57 persen. Maluku Utara juga tumbuh bagus 6,13 persen. Begitu juga Papua Barat. Yang menarik ke bawah adalah pertumbuhan ekonomi di Papua, yang mengalami kontraksi pada 2019 sebesar 15,72 persen," kata Suhariyanto di Kantornya, Jakarta, Rabu (5/2).

Tercatat, pertumbuhan ekonomi Maluku dan Papua di kuartal IV-2019 dibanding kuartal sebelumnya menurun 0,85 persen. Sedangkan dibandingkan kuartal yang sama di tahun sebelumnya tumbuh 0,97 persen.

Dia menjelaskan, faktor utama menurunnya ekonomi di Papua karena dipengaruhi oleh penurunan produksi di PT Freeport sejak tahun 2018. Selain itu, adanya peralihan sistem tambang Freeport ke underground atau penambangan bawah tanah.

"Itu yang menyebabkan Papua mengalami kontraksi yang cukup mendalam hingga 19 persen pada tahun 2019," imbuhnya.

1 dari 1 halaman

Produksi Freeport Anjlok

Produksi konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia tahun ini mengalami penurunan akibat kandungan tembaga di tambang sudah menipis. Ini bertepatan dengan dimilikinya 51 persen saham Freeport oleh Indonesia.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Bambang Gatot mengatakan, pendapatan Freeport Indonesia tahun ini akan menurun, akibat produksi tembaga di tambang terbuka Grasberg menurun karena kandungan mineralnya sudah habis.

"Saya nggak mau menyebutkan angka yang jelas itu turun dari 2018. Jadi EBITDA dan revenuenya turun," kata Bambang, di Kantor Direktorat Jenderal Minerba, Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (9/1).

Bambang mengungkapkan, penurunan produksi tidak disebabkan penghentian kegiatan pertambangan, tetapi peralihan penambangan ke tambang bawah tanah. Saat ini kegiatan penambangan bawah tanah sudah dimulai namun belum optimal.

"Nggak berhenti operasi tapi continues. Yang sekarang bawah tanah sudah beroperasi karena cadangan di bawah tanah kelanjutan mineralisasi yang di atas tadi," jelasnya.

Menurut Bambang, produksi mineral tembaga Freeport Indonesia akan kembali naik hingga 2025 sebagai tahun puncak produksi. Namun dia belum bisa menyebutkan kenaikan produksinya. [azz]

Baca juga:
Virus Corona Pukul Pariwisata RI, Bank Dunia Ramal Dampak ke Pertumbuhan Tak Besar
Mari Elka Pangestu: Kita Harus Bersyukur Ekonomi Masih Tumbuh 5 Persen
Dampak Virus Corona, Ekonomi RI Bisa Terkoreksi 0,29 Persen
BPS Catat Pertumbuhan Ekonomi 2019 Sebesar 5,02 Persen
Menko Airlangga Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2019 di Atas 5 Persen
Erick Thohir Ingatkan BUMN Antisipasi Dampak Ekonomi Akibat Wabah Virus Corona

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini