Gandeng pengusaha, Kemenristek mau rasakan manisnya bisnis jamu

Selasa, 30 Juli 2013 11:38 Reporter : Ardyan Mohamad
jamu. shutterstock

Merdeka.com - Kementerian Riset dan Teknologi ingin merasakan 'manis'nya berbisnis jamu di Indonesia dengan memasarkan hasil penelitian tanaman herbal. Untuk itu, Kemenristek menggandeng Asosiasi Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu).

Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mengatakan banyak hasil penelitian tanaman herbal yang sia-sia lantaran kurang dipromosikan.

"Harus ada yang menjembatani, selama ini publikasi temuan ilmuwan kita kurang. Mereka tahunya neneliti. Harus ada yang bantu menjual," ujarnya selepas menandatangani kerja sama Kemenristek dengan Pengusaha Jamu, Selasa (30/7).

Sebagai awalan, pengusaha jamu diminta untuk ikut memasarkan obat tradisional yang dikembangkan oleh Pusat Studi Biofarmaka Institut Pertanian Bogor (IPB). Lembaga penelitian itu dinilai yang paling siap untuk bekerjasam dengan industri jamu lantaran sudah memiliki temuan yang sudah dipatenkan.

Semisal ekstrak jati belanda untuk pelangsing badan, atau ekstrak buah mahkota dewa untuk mengobati diabetes. "Saat ini ada 12 lembaga penelitian yang kita bina, tahun ini mungkin bisa kita tetapkan 2 Pusat Unggulan Iptek (PUI) lagi," katanya.

Ketua Umum GP Jamu Charles Saerang mengatakan bakal menginvestasikan Rp 1 miliar untuk memasarkan produk hasil penelitian tersebut. Dia yakin produk tersebut bakal laku dipasaran. "Kalau saya bisa bantu Rp 1 miliar sampai jadi barangnya siap dijual, kan saya yakin bisa jual Rp 4 miliar," ungkapnya.

Menurut Charles, penjualan obat herbal dan jamu terus meningkat setiap tahun. Tahun lalu, penjualannya mencapai Rp 13 triliun melonjak dari sebelumnya Rp 7,2 triliun pada 2010.

Sementara, jamu baru dikonsumi oleh 30 persen penduduk Indonesia. Kalah dibanding China yang sudah mencapai 50 persen. [yud]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini