Gahawisri: Wisata Bahari, Wisata Indonesia Masa Depan

Senin, 9 Oktober 2006 19:20 Sumber :
Gahawisri: Wisata Bahari, Wisata Indonesia Masa Depan
Kapanlagi.com

Merdeka.com - Kapanlagi.com - Sekretaris Jenderal Gahawisri (Gabungan Pengusaha Wisata Bahari) Didien Junaedy mengatakan wisata bahari merupakan wisata utama Indonesia di masa depan.

"Wisata Indonesia ke depan adalah wisata bahari karena negara kita adalah negara kepulauan. Wisata bahari merupakan kegiatan yang baru dikembangkan," kata Didien di Jakarta, Senin (09/10).

Dia mengatakan pariwisata bahari mempunyai potensial pasar yang sangat bedsar dan berpotensial menyumbang devisa pariwisata bagi negara.

"Potensi wisata bahari antara 25 sampai 30% dari total devisa pariwisata yang ditargetkan oleh pemerintah berasal dari wisata bahari, dengan catatan pengembangan secara konsisten," kata Didien.

Dalam buku laporan Kinerja tahun kedua Menteri Kebudayaan dan Pariwisata disebutkan negara memperoleh devisa dari pariwisata sebesar US$4,8 miliar pada tahun 2004 dari 5,32 juta wisatawan, dan sebesar US$4,5 miliar pada tahun 2004 dari 5,002 juta wisatawan.

Pada tahun 2006 ini, Menbudpar Jero Wacik menargetkan sekitar lima juta wisatawan mancanegara datang ke Indonesia.

Didien mengatakan makin dikembangkannya pariwisata bahari akan makin meningkatkan perolehan devisa bagi pariwisata.

"Harapan saya, 10 tahun ke depan 50% target devisa pariwisata berasal dari wisata bahari," kata Sekjen Grahawisri itu.

Belum Serius

Meskipun pulau-pulau yang berjumlah ribuan di Indonesia merupakan modal bagi pengembangan dunia pariwisata bahari di Indonesia, Didien melihat pemerintah belum serius untuk mengembangkannya.

"Perlu kemauan politik dari pemerintah untuk membangun pariwisata bahari karena wisata bahari identik dengan mengembangkan wisata di pulau-pulau kecil yang berbasis masyarakat," kata Didien.

Pemberdayaan dan pembangunan masyarakat di pulau-pulau menjadi syarat mutlak bagi pengembangan pariwisata bahari.

"Jadi tidak ada wisata bahari muncul di satu pulau atau satu daerah tapi tidak mengikutsertakan masyarakat setempat. Jadi masyarakat setempat itu harus mempunyai andil di dalamnya sebagai stakeholder, itu yang penting," kata Didien.

Untuk mengembangkan pariwisata bahari, pemerintah harus mengubah paradigma pembangunan selama ini yang mengutamakan pembangunan di daratan.

"Pariwisata bahari adalah lautan. Akses antarpulau jadi hal yang sangat penting sebagai negara kepulauan, yaitu transportasi," kata Sekjen Gahawisri itu.

Biaya perjalanan laut, kata dia, sangatlah mahal dibandingkan biaya perjalanan darat, salah satunya karena mahalnya bahan bakar bensin Rp4.500 di daratan, bisa mencapai Rp10.000 per liter di pulau-pulau terpencil.

Selain itu, pemerintah dapat memberikan kemudahan bagi pengembangan pariwisata bahari dengan memberikan bebas bea masuk untuk alat-alat wisata bahari termasuk mesin-mesin kapal dan pembangunan infrastruktur seperti pembangunan dermaga.

Daerah Unggulan

Didien mengatakan Indonesia mempunyai daerah-daerah unggulan wisata bahari yang terbentang dari Indonesia bagian timur sampai ke Indonesia bagian barat.

"Kita mempunyai daerah-daerah unggulan seperti Raja Ampat di Irian Jaya Barat, di Takabonarate Sulawesi dan Togean di Sulawesi, Derawan di Kabupaten Berau Kalimantan, di Natuna, dan Indonesia timur misalnya di Alor, Pulau Komodo dan Flores," kata Didien.

Potensi wisata bahari daerah-daerah tersebut itu tidak hanya berada di dasar laut, tetapi juga di dalam laut.

"Kebanyakan tempat itu adalah taman nasional sehingga tourism is conservation itu cocok, pariwisata bahari itu adalah pelestarian alam," kata Didien.

Nantinya pihak pariwisata dapat bekerjasama dengan pihak Taman Nasional, untuk pengembangan wisata di zona-zona pemanfaatan.

Selain itu, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) bekerjasama dengan Gahawisri sedang membuat pola pengembangan wisata bahari di pulau-pulau kecil yang akan selesai awal 2007, sebagai modal bagi investor yang tertarik untuk mengembangkan pariwisata bahari.

"Keinginan pemerintah daerah adalah datangnya investor, dan bila investor tertarik ke suatu pulau, kita sudah siap dengan itu (pola pengembangan wisata bahari). Persyaratan ada, kebijakan sudah tersedia," kata Didien.

Gahawisri juga membuat suatu pertemuan bagi para bupati yang daerahnya mempunyai potensi wisata bahari untuk mengumpulkan semua informasi yang nantinya berguna bagi pengembangan daerah tersebut.

"Para bupati mempresentasikan kepada kita mengenai daerahnya, dan kemudian kita mengemas informasi itu selengkap-lengkapnya sehingga suatu saat ini akan pusat informasi untuk investor yang ingin mengembangkan," kata Didien. (*/lpk)

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini