Ford hengkang dari Indonesia imbas penurunan harga komoditas

Kamis, 28 Januari 2016 15:20 Reporter : Siti Nur Azzura
Ford hengkang dari Indonesia imbas penurunan harga komoditas Ford. © Caranddriver.com

Merdeka.com - Ford Motor Indonesia (FMI) menyatakan akan menutup operasionalnya di Indonesia. Penutupan bisnis Ford rencananya akan dilakukan pada semester kedua tahun ini. Hal ini termasuk menutup dealer Ford dan menghentikan penjualan dan impor resmi semua kendaraan Ford.

Asian Development Bank (ADB) menilai keputusan Ford merupakan hal yang wajar. Alasannya, harga komoditas di dunia saat ini tengah menurun sehingga membuat prospek industri otomotif tidak terlalu baik. Selama ini, banyak industri tambang menggunakan mobil keluaran Ford, terutama di Indonesia.

Wakil Presiden ADB Bambang Susantono mengatakan penurunan harga komoditas ini dipengaruhi oleh melambatnya ekonomi Asia, khususnya China. Padahal, negara tirai bambu tersebut menyumbang 30 persen pertumbuhan Gross Domestic Produk (GDP) global dan Asia Pasifik sumbang 60 persen dari pertumbuhan GDP.

"Artinya, jika 30 persen melambat, harga komoditas turun maka bisnis yang akan berhubungan dengan komoditas mengalami situasi sulit. Kami melihat ada siklus seperti itu. Harapan kami akan ada adjustment di dalam ekonomi untuk menanggulangi hal ini," kata Bambang di Hotel Crowne Plaza, Jakarta, Kamis (28/1).

Direktur ADB untuk Indonesia, Steven R. Tabor menambahkan, menurunnya prospek industri otomotif juga disebabkan rendahnya harga minyak dunia.

"Kita tengah mengalami over supply (minyak) dan itu cukup banyak. Apalagi ada pemasukan minyak dari Iran ke pasar dunia. Jadi prospek industri itu dalam jangka pendek tidak terlalu bagus," kata Steven di tempat yang sama.

Meski industri otomotif merosot, akan ada industri lain yang justru memiliki kesempatan untuk berkembang pesat, seperti E-Commerce, pariwisata, perikanan dan lainnya. Ditambah lagi dengan adanya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang kemungkinan bisa membuat pabrik untuk tekstil menjadi lebih baik.

"Jadi bagi industri yang akan hengkang memang agak berat namun di sisi lain penyerapan tenaga kerja di industri lainnya seperti yang tadi disebutkan sangat besar," jelasnya. [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini