Fitch nilai aturan kepemilikan saham bank turunkan daya saing

Rabu, 22 Mei 2013 21:30 Reporter : Sri Wiyanti
Fitch nilai aturan kepemilikan saham bank turunkan daya saing bank expo. ©2012 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Pernyataan Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution terkait izin akuisisi saham PT Bank Danamon Indonesia Tbk oleh DBS Group Holding, menuai sejumlah pendapat dari berbagai pihak. Salah satunya adalah Lembaga Pemeringkat Utang asal Amerika Serikat, Fitch Ratings.

Fitch menilai keputusan BI yang menyetujui akuisisi saham Bank Danamon sebesar 40 persen oleh DBS Group Holding, dan akan menyetujui pembelian saham lanjutan apabila syarat dan ketentuan resiprokal antara Indonesia dan Singapura disetujui secara tertulis, dapat mengurangi minat bank asing untuk masuk ke pasar perbankan Indonesia dalam waktu dekat ini.

"Keputusan BI dapat menjadi preseden bagi bank asing yang prospektif. Jika BI membatasi kepemilikan saham, investor jangka panjang lainnya akan ketakutan untuk membangun cabang," ujar Director Fitch Ratings Singapore Alfred Chan dalam berita tertulis yang diterima merdeka.com, Rabu (22/5).

Fitch menilai, pembatasan kepemilikan saham tersebut akan menjadi kendala bagi investor yang hanya ingin menambah permodalannya.

Kesepakatan akuisisi antara Bank Danamon dan DBS Group Folding merupakan upaya jangka panjang yang berkelanjutan untuk menambah variasi pendapatan dari sektor bisnis yang berasal dari wilayah Asia Tenggara. juga menambah basis pendapatan dari Singapura, dan China.

Fitch menilai profil kredit DBS didukung oleh kemampuan yang kuat untuk menyerap potensi kerugian dengan menjalankan strategi pertumbuhan yang terukur. "Rating (DBS) 'AA-' tidak mungkin akan terpengaruh, bahkan jika kesepakatan akuisisi tersebut batal," ungkap Alfred.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan bahwa BI masih memperjuangkan aspek resiprokal dalam perizinan akuisisi PT Bank Danamon Indonesia Tbk oleh DBS Group Holding. Darmin bilang, BI masih menunggu kepastian MAS dalam memberikan komitmen tertulis, untuk memuluskan proses akuisisi tersebut.

Darmin menegaskan, bahwa untuk menyetujui 67,37 persen kepemilikan saham Bank Danamon oleh DBS Grup, BI meminta MAS untuk memberikan kelonggaran terhadap tiga bank BUMN dalam berbisnis di Singapura. Ketiga bank BUMN tersebut yaitu, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT Bank Negara Indonesia Tbk.

Darmin mengatakan, MAS telah menyatakan bersedia memberikan komitmen untuk syarat yang diajukan BI. Namun, untuk memberikan izin akuisisi saham Bank Danamon hingga 67,37 persen, bank sentral masih menunggu sampai komitmen tersebut direalisasikan secara tertulis.

"Komitmen sudah mereka sampaikan, kami sedang menunggu komitmen tertulis dari MAS hari ini. Kita pegang kuncinya, batas maksimal 40 persen itu. Mereka mintanya kan 67 persen, tapi kita tidak akan berikan kalau komitmen belum dilaksanakan. Jadi dari ini kita belajar, bahwa resiprokal tidak bisa dilakukan kalau kita tidak punya apa-apa," kata Darmin.

Upaya akuisisi 67,37 persen saham Bank Danamon oleh DBS Group Holding terbentur oleh aturan kepemilikan saham bank umum yang dikeluarkan BI tahun 2012 lalu. Aturan tersebut menyebut maksimal kepemilikan saham bank umum ditetapkan sebesar 40 persen untuk lembaga keuangan.

DBS Singapura sendiri menyatakan belum menerima pernyataan resmi dari Bank Indonesia secara tertulis mengenai izin akuisisi 40 persen saham Bank Danamon. "Per hari ini, pengumuman resmi dan tertulis mengenai persetujuan tersebut belum diterima dari Bank Indonesia. DBS berharap permohonan yang telah diajukan sebelumnya disetujui dan akan menerima pengarahan berkelanjutan dari Bank Indonesia," ungkap Group Strategic Marketing Communications DBS Bank Ltd, Singapura, Grace Ngoh dalam pernyataan tertulis yang diterima merdeka.com. [bmo]

Topik berita Terkait:
  1. Perbankan
  2. Fitch
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini