Fenomena aneh turunnya daya beli, termasuk 'miskin' tapi banyak gaya

Selasa, 15 Agustus 2017 06:00 Reporter : Idris Rusadi Putra
Dirut BEI Tito Sulistio.
4. Belanja online dan masuknya perusahaan raksasa ke daerah

Merdeka.com - Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio membantah adanya penurunan daya beli masyarakat. Menurutnya, yang terjadi saat ini adalah perubahan pola konsumsi masyarakat.

Dia mencontohkan, ada sekitar 4,6 juta orang yang berbelanja melalui aplikasi GO-JEK, salah satunya membeli makanan. Sayangnya, makanan tersebut dibeli dari UMKM yang tidak terlacak oleh Ditjen Pajak, sehingga aktivitas pembelian tersebut tidak tercatat.

"Ada 4,6 juta orang yang menggunakan GO-JEK. Tapi apa yang dia pakai, mereka belanja martabak, makanan dari pedagang yang tidak bayar pajak. Artinya (pembelian) tidak dicatat," kara Tito di gedung DPR RI, Jakarta, Senin (14/8).

Selain itu, masuknya perusahaan raksasa ke daerah-daerah juga memengaruhi daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah. Di mana masyarakat akan lebih tertarik untuk berbelanja di perusahaan raksasa tersebut dari pada membeli di UMKM.

Dengan adanya perubahan gaya hidup ini, maka daya beli akan lebih mengarah pada barang-barang mewah. Sehingga ekonomi masyarakat kelas menengah ke atas meningkat, sedangkan ekonomi masyarakat kelas menengah ke bawah menurun.

"Dulu satu keluarga beli ayam Rp 40.000 bisa makan satu keluarga. Tapi sekarang Rp 40.000 hanya bisa untuk makan satu orang. Ini yang justru membuat ekonomi kelas menengah ke bawah menurun karena orang-orang lebih memilih membeli makanan siap saji," imbuhnya.

Oleh karena itu, lanjut Tito, perubahan pola konsumsi ini yang harus menjadi perhatian pemerintah. Sebab, jika hal ini tidak dikontrol, maka perekonomian hanya bergerak di kalangan menengah ke atas, sedangkan perekonomian di kalangan menengah ke bawah akan terus anjlok.

"Saya juga bingung kenapa franchise besar-besar itu bisa masuk ke tingkat II. Padahal dulu tidak boleh. Spending barang consumerism di tingkat II itu tersupport oleh gencarnya promosi dan izin yang diberikan. Mencegah consumerism itu yang negara harus hadir," jelas Tito.

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Subscribe and Follow

Temukan berita terbaru merdeka.com di email dan akun sosial Anda.