Faisal Basri ungkap penyebab harga gas RI lebih mahal dari Singapura

Jumat, 2 September 2016 20:33 Reporter : Saugy Riyandi
Faisal Basri ungkap penyebab harga gas RI lebih mahal dari Singapura Faisal Basri. ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Pemerintah mengungkapkan harga gas di Indonesia lebih mahal dibandingkan dengan di negara-negara tetangga seperti Singapura. Saat ini, harga gas industri di Indonesia hampir mencapai USD 8-10 per million metric british thermal unit (MMbtu)

Plt Menteri ESDM Luhut Binsar Panjaitan mengatakan harga ini dua kali lipat lebih mahal dibanding negara tetangga seperti Singapura yang hanya sebesar USD 4 per MMbtu. Padahal, Singapura impor gas dari Indonesia.

Ekonom UI Faisal Basri mengatakan pemerintah sudah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) nomor 40 tahun 2016 tentang penetapan harga gas bumi. Akan tetapi, Perpres itu menimbulkan banyak masalah baru. Perpres menetapkan penurunan harga gas yang berlaku surut sejak Januari 2016.

Menurutnya, permasalahan harga gas ini disebabkan banyaknya pemburu rente gas atau trader bermodal kertas. Bahkan, dia memperkirakan terdapat 60 trader gas atau calo gas yang berbisnis tanpa memiliki infrastruktur gas bumi.

"Bertahun-tahun praktek bisnis gas tidak sehat tanpa penyelesaian yang menohok ke akar masalah. Salah satu akar masalah utama adalah bisnis gas dijadikan bancakan oleh para pemburu rente," ujar Faisal dalam blog pribadinya di Jakarta, Jumat (2/9).

Selain itu, dia menduga mahalnya harga gas di Indonesia lantaran perusahaan pemasok gas tak langsung menjual ke pembeli utama. Hal ini pernah terjadi di anak usaha Pertamina, PT Pertamina Gas (Pertagas).

Dalam laporan BPH Migas tahun 2014, Pertagas hanya menjual langsung gas kepada dua pengguna akhir, yaitu PT Pupuk Sriwijaya (Persero) dan pabrik keramik PT Arwana AK. Selebihnya dijual kepada 19 trader.

"Contoh gamblang yang membuat harga gas sangat mahal adalah yang dialami oleh pengguna akhir PT Torabika. Gas yang dibeli oleh PT Torabika berasal dari sumber gas Bekasi. Trader pertama memasok ke trader kedua dengan harga USD 9 per MMBtu," tegasnya.

Selanjutnya, trader kedua mengalirkan gasnya ke trader ketiga seharga USD 11,75 per MMBtu dengan menggunakan pipa open access 24 inch milik Pertagas dengan toll fee sebesar USD 0,22 per MMBtu. Dengan demikian, trader kedua memperoleh margin USD 2,53 per MMBtu tanpa bersusah payah membangun infrastruktur pipa.

Setelah itu, trader ketiga menyalurkan gas ke trader keempat dengan harga USD 12,25 per MMBtu. Dengan begitu, trader ketiga memperoleh margin USD 0,5 per MMBtu. Kemudian, trader keempat langsung mengirimkan gasnya ke PT Torabika dengan harga USD 14,50 per MMBtu. Hasilnya, trader keempat sudah untung USD 2,25 per MMBtu.

Alhasil, harga dari trader pertama sampai ke pembeli akhir terkerek dari USD 9 per MMBtu menjadi USD 14,5 per MMbtu atau menggelembung sebesar USD 5,5 per MMBtu.

"Alangkah baiknya pemerintah menertibkan praktek bisnis gas yang amat tidak sehat sebelum mendirikan holding migas. Kalau dipaksakan, sangat boleh jadi praktek pemburuan rente bakal melebar dan membesar. Perusahaan yang betul-betul sehat akan terseret menjadi obyek bancakan baru," pungkasnya. [sau]

Topik berita Terkait:
  1. Faisal Basri
  2. Gas Bumi
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini