Faisal Basri: Menteri BUMN asal bunyi harga gas murah karena holding

Rabu, 7 September 2016 15:16 Reporter : Idris Rusadi Putra
Faisal Basri: Menteri BUMN asal bunyi harga gas murah karena holding Pipa Gas PGN. ©2014 merdeka.com/muhammad lutfhi rahman

Merdeka.com - Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi, Faisal Basri mengkritik Menteri BUMN Rini Soemarno, yang menyebut harga gas bumi bisa turun apabila PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) menjadi anak usaha PT Pertamina.

Menurut Faisal, Menteri Rini asal bicara dan mencari alasan untuk membentuk holding BUMN Migas.

"Jangan seperti Menteri BUMN asal bunyi dan justru memanfaatkan kerumitan bisnis gas sebagai pembenaran untuk membentuk holding BUMN Migas," ucap Faisal dalam tulisan di situs pribadinya seperti dikutip di Jakarta, Rabu (7/9).

Mahalnya harga gas bumi sudah dikeluhkan industri selama bertahun-tahun. Namun, sampai saat ini, pemerintah belum memberikan jalan keluar untuk menyelesaikan keluhan industri terkait harga gas bumi tersebut.

"Akar masalah semua ini adalah para pemburu rente alias para trader gas yang tidak memiliki modal infrastruktur gas (trader bertingkat), trader ini memiliki kedekatan dengan lingkaran kekuasaan sehingga bisa mendapatkan alokasi gas," ujarnya.

"Memang, tidak semua trader sekadar calo yang semata-mata menjual gas tanpa membangun pipa, dan sebatas menjual kembali ke trader lain. Saya berharap semua pihak memiliki data mau mengungkapkan mana trader profesional dan hanya sekadar calon."

Dalam laporan Faisal dituliskan, bertahun-tahun praktik bisnis gas tidak sehat tanpa penyelesaian yang menohok ke akar masalah. Salah satu akar masalah utama adalah bisnis gas dijadikan bancakan oleh para pemburu rente.

Di Laporan Tahunan 2014, tertera Pertagas hanya menjual langsung gas kepada dua pengguna akhir, yaitu PT Pupuk Sriwijaya (Persero) dan pabrik keramik PT Arwana AK. Selebihnya dijual kepada 19 trader.

Menurut Faisal, contoh gamblang yang membuat harga gas sangat mahal adalah yang dialami oleh pengguna akhir PT Torabika. Gas yang dibeli oleh PT Torabika berasal dari sumber gas Bekasi. Trader pertama yang mendapatkannya adalah PT Odira. Pemasok pertama ini menjual kepada trader PT Mutiara Energi dengan harga USD 9.00/MMBtu.

Selanjutnya, PT Mutiara Energi memindahtangankan gas ke PT Berkah Usaha Energi seharga USD 11,75/MMBtu dengan menggunakan pipa open access 24" milik Pertagas dengan toll fee sebesar USD 0,22/MMBtu. Dengan demikian PT Mutiara Energi memperoleh margin USD 2,53/MMBtu tanpa bersusah payah membangun infrastruktur pipa.

Sejak terbentuknya Pertagas pada 2007 silam, kekisruhan pembangunan infrastruktur gas bumi marak terjadi. Misalnya, PGN membangun pipa gas di Muara Karang-Muara Bekasi, hal yang sama juga diikuti Pertagas dengan membangun pipa Muara Karang-Muara Tawar.

Sebelumnya, Menteri BUMN, Rini Soemarno optimistis penggabungan PT Pertamina Gas (Pertagas) dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk akan menghasilkan harga gas yang lebih kompetitif.

"Untuk produk industri, baik di dalam negeri atau pun untuk ekspor, tentunya kita harus mempunyai harga gas secara kompetitif di dunia," kata Rini di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (2/9). [idr]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini