Empat barang impor dari Australia yang menyerbu Indonesia

Kamis, 21 November 2013 06:05 Reporter : Wisnoe Moerti
Empat barang impor dari Australia yang menyerbu Indonesia Sapi impor dari Australia tiba. ©2013 Merdeka.com/arie basuki

Merdeka.com - Pada 30 September 2013, Perdana Menteri Australia, Tony Abbott , bertandang ke Istana Negara, Jakarta. Tony bertemu langsung dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membicarakan pelbagai hal. Intinya soal kerja sama bilateral dua negara. Termasuk di bidang ekonomi.

Kala itu Tony menyadari telah melakukan kesalahan terhadap Indonesia di masa lalu terkait kerja sama di sektor pertanian dan ketahanan pangan. Agar kerja sama semakin erat, dia menyadari harus ada hubungan ekonomi yang kuat antar dua negara. Tidak hanya di bidang pangan, tapi juga perdagangan dan investasi.

Australia menjadi investor di nomor 9 terbesar di Indonesia. Dari tahun 2011 ke tahun 2012 nilai investasi Australia melonjak 700 persen. Tahun 2011 kurang dari USD 100 juta, tahun 2012 meningkat lebih dari USD 700 juta.

Di bidang perdagangan, total perdagangan dua negara mencapai USD 10 miliar lebih. Di targetkan, bisa mencapai USD 15 miliar atau sekitar Rp 173 triliun dua tahun ke depan.

Berdasarkan buku statistik Indonesia 2013 yang dikeluarkan badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia merupakan negara tujuan ekspor terbesar ketujuh untuk Australia pada tahun lalu. Sebaliknya, Australia negara tujuan ekspor terbesar kedelapan untuk Indonesia.

Namun, semua bujuk rayu Abbott saat bertandang ke Indonesia tak ada artinya setelah terungkap skandal penyadapan yang dilakukan dinas intelijen Australia terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pejabat negara lainnya. SBY akhirnya memutuskan mengakhiri hubungan kerja sama militer dengan Australia.

Namun, untuk hubungan atau kerja sama ekonomi belum diputuskan. "Belum sampai ke situ (kaji ulang kerja sama ekonomi). Tapi kita tunggu, saya akan rapat dengan presiden. Tapi memang ini adalah sesuatu yang sangat mencederai hubungan persahabatan kita," ungkap Menko Perekonomian, Hatta Rajasa , di DPR, dua hari lalu.

Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan , tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Bahkan Gita mengatakan tengah mengkaji ulang kerja sama dagang dengan Australia. Termasuk di dalamnya soal impor sapi.

Gita merasa penyadapan yang dilakukan pihak negeri kanguru tersebut merupakan pengkhianatan. Penyadapan ini membuat kedua negara bertetangga tidak saling percaya satu sama lain termasuk kerja sama bidang ekonomi.

"Sementara kita kan sangat terbatas dalam melakukan importasi, tempat-tempat tertentu saja. Nah ini ada upaya untuk mengubah undang-undang peternakan agar kerangkanya lebih jelas," kata Gita di JCC, Jakarta, Rabu (20/11).

Jika Australia dan Indonesia resmi 'bercerai' dan tidak melanjutkan hubungan kerja sama ekonomi, maka beberapa komoditas dari Australia kemungkinan akan hilang dari Indonesia. Salah satunya sapi yang selama ini didatangkan dari negeri kangguru.

Selain sapi, masih ada beberapa komoditas lain dari Australia yang selama ini dipasok ke Indonesia. Merdeka.com mencoba merangkum beberapa komoditas dari Australia yang kemungkinan bakal dihentikan masuk ke Indonesia jika kerja sama ekonomi dua negara tidak dilanjutkan.

1 dari 4 halaman

Garam

Indonesia memiliki garis pantai sepanjang 95.181 kilometer (km). Garis Pantai Indonesia termasuk yang terpanjang di dunia. Namun, potensi garis pantai Indonesia belum dimanfaatkan secara maksimal.

Indonesia masih hobi impor garam. Dan salah satu yang terbesar berasal dari Australia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) selama Januari sampai Agustus 2013, impor garam dari Australia mencapai 1.04 juta ton dengan nilai mencapai USD 48 juta.

2 dari 4 halaman

Gandum

Indonesia juga tercatat sebagai negara tujuan ekspor gandum Australia. Secara total, volume impor gandum Indonesia pada 2011 mencapai 5,4 juta metric ton atau senilai USD 2,1 miliar. Impor gandum Indonesia melonjak menjadi 6,2 juta metric ton atau senilai USD 2,2 miliar pada tahun lalu.

Data Januari-April 2013, volume impor gandum Indonesia sudah menembus 2 juta metric ton, dengan nilai USD 771,4 juta.

Gandum impor yang terbanyak masuk ke Indonesia berasal dari Australia, sebesar 70,7 persen. Kanda hanya 14,9 persen, dan Amerika Serikat hanya 11 persen.

3 dari 4 halaman

Buah dan sayur

Australia termasuk negara yang komoditas holtikultura menguasai pasar Indonesia. Sepanjang Januari - Mei total impor sayur dan buah dari Australia sudah menembus 13.683 ton atau senilai USD 10,2 juta.

Pada 2012, impor sayur dari Australia mencapai 28.000 ton atau senilai USD 21,67 juta. Tahun sebelumnya lebih besar lagi, mencapai 29.000 ton atau USD 21,15 juta.

Salah satu jenis buah yang berasal dari Australia adalah jeruk Mandarin atau Shantang dan Apel.

4 dari 4 halaman

Susu

Produk impor dari Australia yang juga membanjiri pasar Indonesia adalah susu. Sepanjang Januari-Maret 2013 ada 46.000 ton susu yang diimpor. Nilainya menembus USD 164,6 juta. Australia salah satu pemasok terbesar susu impor ke Indonesia. Volumenya mencapai 7.061 ton atau senilai USD 23,7 juta.

Susu impor paling banyak didatangkan dari Selandia Baru sebanyak 18.726 ton atau senilai USD 65 juta disusul Amerika Serikat sebanyak 10.224 ton atau senilai USD 36,6 juta.

Baca juga:
Lima produk Indonesia jajah Australia
Apa langkah Gita buat redam barang impor?
Kardus buatan Indonesia diekspor ke Australia dan Afrika
5 Cerita barter produk Indonesia dengan negara lain
Proteksi pada hak kekayaan intelektual dorong ekspor nasional

[noe]
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini