Emas Disarankan Tak Menjadi Portofolio Investasi Utama, Inilah Alasannya

Selasa, 12 November 2019 07:30 Reporter : Merdeka
Emas Disarankan Tak Menjadi Portofolio Investasi Utama, Inilah Alasannya emas . shutterstock

Merdeka.com - Saat ini semakin banyak instrumen investasi yang ditawarkan. Mulai dari reksadana hingga emas. Apalagi teknologi membuat berinvestasi kini semakin mudah.

Namun, CEO PT Sampoerna Gold Indonesia John Aryananda, mengingatkan berinvestasi di emas jangan menjadi portofolio investasi yang utama. Alasannya, harga emas biasanya naik di saat data ekonomi memburuk atau ketidakpastian global sedang tinggi-tingginya di suatu negara.

Sebaliknya, jika data ekonomi menunjukan perbaikan, portofolio investasi seperti saham, properti, dan depositolah yang dipastikan lebih untung jika dibandingkan dengan berinvestasi di komoditas emas.

"Untuk tujuan investasi, emas jangan dijadikan investasi portofolio yang utama. Emas jadi basis portofolio kalian akan tergerus. Meskipun emas menguntungkan kita, untuk jadi investasi utama, itu tidak sehat," ujarnya di Jakarta, Senin (11/11).

John menyarankan proporsi emas sekitar 30 persen dari total portofolio investasi. "Jadi 20-30 persen portofolio investasi di emas. Kalau ekonomi melaju, harga emas akan turun. Kalau portofolionya 70 persen, nanti akan anjlok investasinya," kata dia.

Adapun sebagai informasi, portofolio merupakan kumpulan investasi yang dimiliki oleh institusi ataupun perorangan. Itu bisa berupa properti, deposito, saham, emas, obligasi, atau instrumen lainnya.

1 dari 1 halaman

Mengenal Risiko dan Imbal Hasil dari Investasi Emas dan Deposito

Perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie sebetulnya tidak bisa membandingkan produk-produk investasi satu sama lain. Sebab, masing-masing punya karakter tersendiri yang berbeda dengan produk investasi lain. Misalnya, investasi emas dan deposito. Kedua jenis investasi tersebut tidak bisa dibandingkan mana yang lebih baik.

"Jadi saat kita berinvestasi prinsipnya pasti ada risiko. Tidak mungkin investasi tidak ada risiko. Risiko yang kita kenal ada risiko likuiditas, risiko gagal bayar, dan risiko fluktuasi," ungkap dia, saat ditemui, di Jakarta, Rabu (18/9).

Alasan pertama, sebab keduanya memiliki jenis risiko yang berbeda. Investasi emas memiliki risiko fluktuasi harga. Sementara investasi di deposito memiliki risiko likuiditas dan gagal bayar.

"Deposito dan emas itu punya risiko yang berbeda. Deposito risikonya likuiditas dan gagal bayar. Kalau banknya collapse, duit kita tidak balik. Emas itu agak beda, karena risikonya fluktuasi harga. Tapi pada saat dia pegang fisik emasnya, maka itu menjadi milik dia. Dia tidak tergantung pada pihak ketiga," ujar dia.

Alasan kedua, terkait dengan return atau imbal hasil yang didapatkan dari dua jenis investasi tersebut. Imbal hasil yang berbeda membuat investasi emas dan deposito tidak dapat dibandingkan satu sama lain.

"Itu beda sekali. Tidak bisa. Karena deposito memberikan keuntungan dalam bentuk penghasilan tiap bulan. Kalau emas itu dia memberi keuntungan dari selisih harga beli dengan harga jual. Itu saja sudah lain sekali," tandasnya.

Reporter: Bawono Yadika Tulus

Sumber: Liputan6

[bim]

Baca juga:
Milenial yang Tak Ingin Tua Sebelum Kaya, Berikut Langkah Antisipasi Harus Diambil
OJK Sebut Investasi di Pasar Modal Sudah Terapkan Prinsip Syariah
Cara Jitu Terhindar Investasi Bodong
Usia Berapakah Saat Anda Sudah Terlambat Untuk Berinvestasi?
Proyeksi dan Analisa Manulife pada Pasar Saham dan Obligasi Indonesia 2019

Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini