Ekspor produk tekstil RI di semester I-2017 capai Rp 95,2 triliun

Rabu, 27 September 2017 11:24 Reporter : Saugy Riyandi
Ekspor produk tekstil RI di semester I-2017 capai Rp 95,2 triliun Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. ©kemenperin

Merdeka.com - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mendorong industri tekstil dan produk tekstil berinovasi, sehingga stigma hanya jadi tukang jahit tidak terus melekat. Saat ini, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional terus menunjukkan kinerja yang positif baik di pasar domestik maupun ekspor.

Pada semester I-2017, laju pertumbuhan dari sektor padat karya berorientasi ekspor ini mengalami peningkatan sebesar 1,92 persen (YoY) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya minus 0,13 persen.

"Selain itu, ekspor TPT juga mengalami kenaikan 2,71 persen sehingga menjadi USD 7,12 atau setara Rp 95,2 miliar sampai dengan Juli 2017," ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dalam keterangannya, Rabu (27/9).

Airlangga memperkirakan, sampai akhir 2017, ekspor TPT akan mencapai USD 12,09 miliar dan pada 2019 ditargetkan sebesar USD 15 miliar. Di samping itu, guna meningkatkan daya saing dan produktivitas di sektor strategis ini, pemerintah tengah berupaya untuk mempermudah akses logistik dan menguatkan branding lokal.

"Saat ini, industri TPT kita sudah terintegrasi, 90 persen sudah diproduksi di dalam negeri. Untuk itu, peningkatan nilai tambah di Indonesia juga penting untuk memenuhi pasar domestik, selain ekspor," jelasnya.

"Melalui upaya branding yang dilakukan, perusahaan dapat lepas dari stigma negatif industri pakaian jadi di Indonesia yang hanya menjadi 'tukang jahit' serta lebih mandiri dalam melakukan sourcing bahan baku maupun aksesorisnya," kata Airlangga.

Dalam hal ini, Kemenperin bersama pemangku kepentingan terkait bertekad untuk terus meningkatkan kinerja industri TPT nasional.

"Salah satunya, kami mendorong peningkatan kinerja industri hulu tekstil dalam negeri sebagai penyuplai bahan baku serat, kain maupun benang karena peningkatan penggunaan bahan baku dari industri yang memiliki kebebasan dalam menentukan sumber bahan bakunya," ungkapnya.

Sementara itu, General Manager PT Delami Garment Industries Fenty Tiono mengungkapkan, perusahaan berdiri sejak tahun 1979 dengan mulai memiliki 15 mesin jahit dan 30 operator untuk memproduksi celana panjang merek WOODS. Pada Tahun 1987, ekspor pertama kali ke Amerika Serikat dan Jepang.

"Tahun 1990, makin besar ekspornya dengan merek Eddie Bauer, Nike, M&S, dan The Northface. Merek domestik pertama, yaitu The Executive dan saat ini brand-brand kami melayani berbagai segmen," jelas Fenty.

Pada 2005, perusahaan meluncurkan merek Delami Brands sebagai konsep baru industri garmen retail. "Sekarang pabrik berdiri di atas lahan seluas lima hektare dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 2.800 orang," katanya. [sau]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini